<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indosdm.com &#187; Benefits &#8211; Compensation Law</title>
	<atom:link href="http://indosdm.com/category/legal/benefits-compensation-law/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indosdm.com</link>
	<description>Portal HR &#124; HR Direktori &#124; Artikel MSDM &#124; Diskusi HRD</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 06:40:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>PER. 02/MEN/XII/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA  BAGI TENAGA KERJA ASING</title>
		<link>http://indosdm.com/per-02menxii2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing</link>
		<comments>http://indosdm.com/per-02menxii2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 08:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[Legislation]]></category>
		<category><![CDATA[Jamsostek TKA]]></category>
		<category><![CDATA[Per men]]></category>
		<category><![CDATA[PER. 02/MEN/XII/2004]]></category>
		<category><![CDATA[Tenaga Kerja Asing]]></category>
		<category><![CDATA[TKA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=1609</guid>
		<description><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER. 02/MEN/XII/2004 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-67meniv2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing' rel='bookmark' title='KEP-67/MEN/IV/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING'>KEP-67/MEN/IV/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-21meniii2004-penggunaan-tenaga-kerja-asing-sebagai-pemandu-nyanyi-karaoke' rel='bookmark' title='KEP &#8211; 21/MEN/III/2004 &#8211; PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING  SEBAGAI PEMANDU NYANYI / KARAOKE'>KEP &#8211; 21/MEN/III/2004 &#8211; PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING  SEBAGAI PEMANDU NYANYI / KARAOKE</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">NOMOR : PER &#8211; 02/MEN/XII/2004</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">TENTANG</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>BAGI TENAGA KERJA ASING</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Menimbang :</p>
<ol style="text-align: justify;" type="a">
<li>bahwa program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bertujuan      untuk memberikan perlindungan bagi tenaga kerja beserta keluarganya;</li>
<li>bahwa Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang      Jaminan Sosial Tenaga Kerja, mengamanatkan pelaksanaan Program Jaminan      Sosial Tenaga Kerja diberlakukan kepada setiap tenaga kerja yang bekerja      di Indonesia;</li>
<li>bahwa sebagian tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia      telah mendapatkan perlindungan melalui berbagai program asuransi jaminan      sosial tenaga kerja di negara asalnya;</li>
<li>bahwa sehubungan dengan pertimbangan sebagaimana      dimaksud pada huruf a, b, dan c maka perlu diatur Jaminan Sosial Bagi      Tenaga Kerja Asing dengan Peraturan Menteri ;</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mengingat :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1951 Nomor 4);</li>
<li>Undang-undang nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3468;</li>
<li>Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1993 nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3520);</li>
<li>Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu;</li>
<li>Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor PER 05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja;</li>
<li>Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor PER-01/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Tenaga Kerja Dengan Manfaat Lebih Baik dari Paket Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja;</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">MEMUTUSKAN :</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Menetapkan :</p>
<p style="text-align: justify;">PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pasal 1</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud :</p>
<p style="text-align: justify;">1        Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerjajdalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">2        Pengusaha adalah :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.       orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;<br />
b.      orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;<br />
c.       orang peserorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pasal 2</p>
<p style="text-align: justify;">Pengusaha yang mempekerjakan Tenaga Kerja Asing yang telah memiliki  perlindungan melalui program jaminan sosial tenaga kerja di negara  asalnya yang sejenis dengan program jamian sosial tenaga kerja  sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang  Jaminan Sosial Tenaga Kerja, tidak wajib mengikutsertakan tenaga kerja asing yang bersangkutan dalam program jamian sosial tenaga kerja di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pasal 3</p>
<p style="text-align: justify;">Keikutsertaan Tenaga Kerja Asing pada progam jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 harus dibuktikan dengan polis asuransi asli.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pasal 4</p>
<p style="text-align: justify;">Persyaratan dan tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja sesuai peraturan Perundang-undangan yang berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pasal 5</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ditetapkan Peraturan Menteri ini maka Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 67/MEN/ IV/2004 tentang Pelaksanaan  Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Asing, dinyatakan tidak berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pasal 6</p>
<p style="text-align: justify;">Peraturan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 31-12-2004</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA,</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">FAHMI IDRIS</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/keputusan-presiden-nomor-75-tahun-1995-penggunaan-tenaga-kerja-warga-negara-asing-pendatang" rel="bookmark" class="wherego_title">KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 75 TAHUN 1995 &#8211; PENGGUNAAN TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-21meniii2004-penggunaan-tenaga-kerja-asing-sebagai-pemandu-nyanyi-karaoke" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP &#8211; 21/MEN/III/2004 &#8211; PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING  SEBAGAI PEMANDU NYANYI / KARAOKE</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/dasar-pemikiran-standar-ketenagakerjaan-international-untuk-pekerja-rumah-tangga" rel="bookmark" class="wherego_title">Dasar Pemikiran Standar Ketenagakerjaan International Untuk Pekerja Rumah Tangga</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-20meniii2004-tata-cara-memperoleh-ijin-mempekerjakan-tenaga-kerja-asing" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP- 20/MEN/III/2004 &#8211; TATA CARA MEMPEROLEH IJIN MEMPEKERJAKAN TENAGA KERJA ASING</a></li><li><a href="http://indosdm.com/keppres-nomor-51-tahun-1989-perubahan-keputusan-presiden-nomor-28-tahun-1988" rel="bookmark" class="wherego_title">KEPPRES NOMOR 51 TAHUN 1989 &#8211; PERUBAHAN KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 28 TAHUN 1988</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=1609&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-67meniv2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing' rel='bookmark' title='KEP-67/MEN/IV/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING'>KEP-67/MEN/IV/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-21meniii2004-penggunaan-tenaga-kerja-asing-sebagai-pemandu-nyanyi-karaoke' rel='bookmark' title='KEP &#8211; 21/MEN/III/2004 &#8211; PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING  SEBAGAI PEMANDU NYANYI / KARAOKE'>KEP &#8211; 21/MEN/III/2004 &#8211; PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING  SEBAGAI PEMANDU NYANYI / KARAOKE</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/per-02menxii2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEP-67/MEN/IV/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING</title>
		<link>http://indosdm.com/kep-67meniv2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing</link>
		<comments>http://indosdm.com/kep-67meniv2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 04:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[International & Global HR]]></category>
		<category><![CDATA[Legislation]]></category>
		<category><![CDATA[KEP-67/MEN/IV/2004]]></category>
		<category><![CDATA[Kepmen Depnakertrans]]></category>
		<category><![CDATA[PROGRAM JAMINAN SOSIAL]]></category>
		<category><![CDATA[Tenaga Kerja Asing]]></category>
		<category><![CDATA[TKA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=1587</guid>
		<description><![CDATA[KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP-67/MEN/IV/2004 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep173men2000-jangka-waktu-ijin-mempekerjakan-tenaga-kerja-warga-negara-asing-pendatang' rel='bookmark' title='KEP.173/MEN/2000 &#8211; JANGKA WAKTU IJIN MEMPEKERJAKAN  TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG'>KEP.173/MEN/2000 &#8211; JANGKA WAKTU IJIN MEMPEKERJAKAN  TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.173/MEN/2000 TENTANG...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/per-15meniv2006-perubahan-atas-peraturan-menteri-tenaga-kerja-dan-transmigrasi-nomor-per-07meniii2006' rel='bookmark' title='PER-15/MEN/IV/2006 &#8211; PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI  NOMOR PER: 07/MEN/III/2006'>PER-15/MEN/IV/2006 &#8211; PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI  NOMOR PER: 07/MEN/III/2006</a> <small>PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p align="center">REPUBLIK INDONESIA</p>
<p align="center">NOMOR : KEP-67/MEN/IV/2004</p>
<p align="center">TENTANG</p>
<p align="center"><strong>PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING</strong></p>
<p align="center">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA</p>
<p>Menimbang :</p>
<p>a.       bahwa berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan sosial Tenaga Kerja pelaksanaan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja diberlakukan kepada setiap tenaga kerja yang bekerja di Indonesia:</p>
<p>b.      bahwa perlu ditetapkan kewajiban bagi pengusaha untuk mengukutsertakan tenaga kerja asing yang dipekerjakannya dalam Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja dengan Keputusan Menteri;</p>
<p>Mengingat  :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4 );</li>
<li>Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3468) ;</li>
<li>Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39,  Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);</li>
<li>Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1993 Nomor 20, Tambahan Lembaran negara Republik Indonesia Nomor 3520);</li>
<li>Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/ M Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong;</li>
<li>Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor PER 05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan,  Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja;</li>
</ol>
<p align="center">MEMUTUSKAN :</p>
<p>Menetapkan :</p>
<p style="text-align: justify;">KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI KERJA ASING.</p>
<p align="center">Pasal 1</p>
<p>Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud :</p>
<p style="text-align: justify;">1.      Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja,sakit,hamil,bersalin,hari tua dan meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">2.      Pengusaha adalah :</p>
<p style="text-align: justify;">a.          orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;</p>
<p style="text-align: justify;">b.         orang perseorangan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;</p>
<p style="text-align: justify;">c.          orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.</p>
<p align="center">Pasal 2</p>
<p style="text-align: justify;">Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja asing di Indonesia wajib mengikutsertakan tenaga kerja asing yang bersangkutan dalam Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja.</p>
<p align="center">Pasal 3</p>
<p style="text-align: justify;">Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan pemeliharaan kesehatan.</p>
<p align="center">Pasal 4</p>
<p style="text-align: justify;">Persyaratan dan tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.</p>
<p align="center">Pasal 5</p>
<p style="text-align: justify;">Segala ketentuan bertentangan dengan Keputusan Menteri ini dinyatakan tidak berlaku.</p>
<p align="center">Pasal 6</p>
<p style="text-align: justify;">Keputusan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.</p>
<p align="center">Ditetapkan di Jakarta</p>
<p align="center">pada tanggal 26 April 2004</p>
<p align="center">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI<br />
REPUBLIK INDONESIA</p>
<p align="center">ttd</p>
<p align="center">JACOB NUWAWEA</p>
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/keputusan-presiden-nomor-75-tahun-1995-penggunaan-tenaga-kerja-warga-negara-asing-pendatang" rel="bookmark" class="wherego_title">KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 75 TAHUN 1995 &#8211; PENGGUNAAN TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-228men2003-tata-cara-pengesahan-rencana-penggunaan-tenaga-kerja-asing" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 228/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENGESAHAN RENCANA PENGGUNAAN  TENAGA KERJA ASING</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-230men2003-golongan-dan-jabatan-tertentu-yang-dapat-dipungut-biaya-penempatan-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/per-07meniv2006-penyederhanaan-prosedur-memperoleh-ijin-mempekerjakan-tenaga-kerja-asing-imta" rel="bookmark" class="wherego_title">PER-07/MEN/IV/2006 &#8211; PENYEDERHANAAN PROSEDUR MEMPEROLEH  IJIN MEMPEKERJAKAN TENAGA KERJA ASING (IMTA)</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=1587&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep173men2000-jangka-waktu-ijin-mempekerjakan-tenaga-kerja-warga-negara-asing-pendatang' rel='bookmark' title='KEP.173/MEN/2000 &#8211; JANGKA WAKTU IJIN MEMPEKERJAKAN  TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG'>KEP.173/MEN/2000 &#8211; JANGKA WAKTU IJIN MEMPEKERJAKAN  TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.173/MEN/2000 TENTANG...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/per-15meniv2006-perubahan-atas-peraturan-menteri-tenaga-kerja-dan-transmigrasi-nomor-per-07meniii2006' rel='bookmark' title='PER-15/MEN/IV/2006 &#8211; PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI  NOMOR PER: 07/MEN/III/2006'>PER-15/MEN/IV/2006 &#8211; PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI  NOMOR PER: 07/MEN/III/2006</a> <small>PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/kep-67meniv2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PER &#8211; 12/MEN/VI/2007 &#8211; PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</title>
		<link>http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja-2</link>
		<comments>http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 19:39:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[JAMSOSTEK]]></category>
		<category><![CDATA[PER - 12/MEN/VI/2007]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan menteri]]></category>
		<category><![CDATA[Permen]]></category>
		<category><![CDATA[Permen nakertrans]]></category>
		<category><![CDATA[PETUNJUK TEKNIS JAMSOSTEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=1057</guid>
		<description><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER - 12/MEN/VI/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA

(Bagian 2 dari 2)
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PER &#8211; 12/MEN/VI/2007 &#8211; PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PER &#8211; 12/MEN/VI/2007 &#8211; PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-no14-th-1993-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">(Bagian 2 dari 2)</p>
<p style="text-align: center;">PERATURAN</p>
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">NOMOR: PER &#8211; 12/MEN/VI/2007</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">TENTANG</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><strong>PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA.</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: center;">
<hr style="width: 400px;" />
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">BAB VII</p>
<p style="text-align: center;">PENGAJUAN DAN PELAYANAN</p>
<p style="text-align: center;">JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 22</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk memberikan pelayanan pemeliharaan kesehatan kepada peserta Badan Penyelenggara menunjuk Pelaksana Pelayanan Kesehatan terdiri dari :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.          Balai Pengobatan;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.         Puskesmas;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.          Dokter praktek swasta;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.         Rumah Sakit;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">e.          Rumah Bersalin;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">f.           Rumah Sakit Bersalin;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">g.          Apotek;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">h.          Optik;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">i.            Perusahaan alat-alat kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 23</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Badan Penyelenggara menyelenggarakan paket jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dasar.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Paket Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dasar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi pelayanan :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.          Rawat jalan tingkat pertama;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.         Rawat jalan tingkat lanjutan;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.          Rawat inap;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.         Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">e.          Penunjang diagnostik</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">f.           Pelayanan khusus;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">g.          Gawat darurat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 24</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pelayanan rawat jalan tingkat pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a, meliputi :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.       Bimbingan dan konsultasi kesehatan;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.      Pemeriksaan kehamilan,nifas dan ibu menyusui;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.       Keluarga berencana;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.      Imunisasi bayi, anak dan ibu hamil;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">e.       Pemeriksaan dan pengobatan dokter umum;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">f.        Pemeriksaan dan pengobatan dokter gigi;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">g.       Pemeriksaan laboratorium sederhana;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">h.       Tindakan medis sederhana.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">i.         Pemberian obat-obatan sesuai dengan standard program JPK Jamsostek yang berpedoman pada DOEN Plus.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">j.        Rujukan ke rawat tingkat lanjutan.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pelayanan rawat jalan tingkat pertama dilakukan di Pelaksana Pelayanan Kesehatan Tingkat pertama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 25</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf b, meliputi :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.          Pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.         Pemeriksaan penunjang diagnostik lanjutan;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.          Pemberian obat-obatan sesuai dengan standard obat program JPK Jamsostek yang berpedoman pada DOEN Plus</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.         Tindakan khusus lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan dilakukan di Pelaksana Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjutan yang ditunjuk Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 26</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pelayanan rawat inap sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ayat (2) huruf c meliputi:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.       a.Pemeriksaan dokter.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.      b.Tindakan medis</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.       c.Penunjang diagnostik.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.      d.Pemberian obat-obatan DOEN Plus atau Generik.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">e.       e.Menginap dan makan.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pelayanan rawat inap dilakukan di semua rumah sakit</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 27</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pemeriksaan  kehamilan  dan pertolongan persalinan sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ayat (2) huruf d meliputi:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.          Pemeriksaan kehamilan oleh dokter umum atau bidan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.         Pertolongan persalinan oleh dokter umum atau bidan atau dukun beranak yang diakui.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.          Perawatan ibu dan bayi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.         Pemberian obat-obatan sesuai dengan standar obat program JPK Jamsostek yang berpedoman pada  Daftar Obat Esensial Nasional Plus (DOEN Plus).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">e.          Menginap dan makan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">f.           Rujukan ke Rumah Sakit atau Rumah Sakit Bersalin.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pelayanan      persalinan     (partus) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diberikan kepada tenaga kerja atau istri tenaga kerja yang melahirkan anak setelah hamil sekurang-kurangnya 26 minggu.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Pertolongan persalinan bagi tenaga kerja atau istri tenaga kerja dilakukan pada pelaksana pelayanan kesehatan tingkat pertama atau Rumah Bersalin dengan ketentuan sebagai berikut: a.Persalinan kesatu, kedua dan ketiga; b.Tenaga kerja pada permulaan kepesertaan sudah mempunyai tiga anak atau lebih,</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     tidak berhak mendapat pertolongan persalinan. c.Untuk persalinan dengan penyulit yang memerlukan tindakan spesialistik maka berlaku ketentuan rawat inap di Rumah Sakit. d.Rawat inap minimum 3 hari dan maksimum 5 hari .</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Biaya persalinan normal ditetapkan maksimal Rp. 500.000,- (Lima Ratus ribu rupiah).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 28</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pelayanan penunjang diagnostik sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ayat (2) huruf e meliputi :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.       Pemeriksaan laboratorium .</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.      Pemeriksaan Radiologi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.       Pemeriksaan :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">- Electro Encephalograpy (EEG)</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">- Electro Cardiografi (ECG)</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">- Ultra Sonografi (USG).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">- Computerized Tomograpy Scaning (CT.Scaning).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.      Pemeriksaan diagnostik lanjutan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pelaksanaan pelayanan diagnostik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), disesuaikan dengan tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan daerah.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Pemeriksaan diagnostik dilakukan di Rumah Sakit atau Pelaksana Pelayanan Kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 29</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pelayanan khusus sebagaimana  dimaksud dalam pasal 23 ayat (2) huruf f, meliputi:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Kacamata.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Prothese mata.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Prothese gigi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.   Alat Bantu dengar</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">e.    Prothese anggota gerak.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Pelayanan khusus dilakukan di optik, balai pengobatan, rumah sakit dan perusahaan alat kesehatan yang ditunjuk oleh Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Penggantian biaya pelayanan khusus diberikan kepada tenaga kerja sesuai standard yang ditetapkan dan atas indikasi medis dengan pengaturan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Tenaga Kerja yang mendapat resep kacamata dari dokter spesialis mata dapat memperoleh kacamata dioptik dengan ketentuan:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.1. biaya untuk frame dan lensa sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.2. penggantian lensa dua tahun sekali sebesar Rp. 80.000,- (delapan puluh ribu rupiah).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.3. penggantian frame tiga tahun sekali sebesar Rp. 120.000,- (seratus dua puluh ribu rupiah).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Tenaga kerja yang memerlukan prothese mata dapat diberikan atas anjuran dokter spesialis mata dan diambil di rumah sakit atau perusahaan alat-alat kesehatan, dengan biaya penggatian maksimum Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Tenaga kerja yang memerlukan  prothese gigi dapat diberikan dibalai pengobatan gigi dengan maksimum biaya Rp. 408.000,- (empat ratus delapan ribu rupiah) dan prothese gigi yang diberikan adalah jenis Removable dengan bahan acrylic dengan ketentuan per rahang:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">c.1. gigi pertama sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">c.2. gigi kedua dan seterusnya sebesar Rp. 8.000,- (delapan ribu rupiah)</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Tenaga kerja yang memerlukan prothese kaki dan prothese tangan dapat diberikan atas anjuran dokter spesialis di rumah sakit, dengan pengaturan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    prothese tangan dengan penggantian biaya maksimum Rp. 350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah)</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   prothese kaki dengan penggantian biaya maksimum Rp, 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Tenaga kerja yang memerlukan alat Bantu dengar atas anjuran dokter spesialis di rumah sakit dapat diberikan biaya maksimum sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah).</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Kerusakan atau kehilangan prothese dan orthese sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak mendapat penggantian dari Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 30</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pelayanan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ayat (2) huruf g, meliputi:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Pemeriksaan dan pengobatan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Tindakan medik</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Pemberian obat-obatan sesuai dengan standar obat program JPK Jamsostek yang berpedoman pada  DOEN Plus atau Generik.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.   Rawat inap.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Gawat Darurat yang memerlukan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Kecelakaan dan ruda paksa bukan karena kecelakaan kerja.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Serangan jantung.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Serangan Asma berat.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.   Kejang.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">e.    Pendarahan berat.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">f.     Muntah berak disertai dehidrasi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">g.    Kehilangan kesadaran (koma) termasuk epilepsy atau ayan</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">h.    Keadaan gelisah pada penderita gangguan jiwa</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">i.      Colic renal/colic abdomen atau kelahiran mendadak, pendarahan, ketuban pecah dini.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Pelayanan gawat darurat dilakukan di semua pelaksana pelayanan kesehatan</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 31</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pelayanan kesehatan tingkat lanjutan harus melalui rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pelaksana pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang tidak lengkap dapat melakukan rujukan kepada pelaksana pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang lebih lengkap.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 32</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal tertanggung memerlukan rawat jalan tingkat pertama:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Tertanggung memlih satu pelaksana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diingini</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Setiap kali Tertanggung memerlukan pelayanan kesehatan harus menunjukkan kartu pemeliharaan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Tertanggung mendapat pelayanan kesehatan sesuai standard yang telah ditetapkan</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.   Bila memerlukan pemeriksaan lebih lanjut Tertanggung dirujuk ke pelaksana pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang ditentukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 33</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal diperlukan rawat jalan tingkat lanjutan:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Tertanggung membawa surat rujukan dan kartu pemeliharaan kesehatan ke pelaksana pelayanan kesehatan tingkat lanjutan untuk mendapatkan pelayanan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Apabila diperlukan konsultasi dengan bagian lain atau penunjang diagnostik maka dokter spesialis memberikan surat jalan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Apabila diperlukan rujukan ke rumah sakit lain maka dokter spesialis memberikan surat rujukan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.   Apabila tertanggung mendapat resep obat harus diambil di apotik yang sudah ditunjuk oleh Badan Penyelenggara</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 34</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Dalam hal diperlukan rawat inap:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Tertanggung yang akan rawat inap harus membawa surat rujukan dari pelaksana pelayanan kesehatan tingkat pertama atau surat rawat dari dokter poli rumah sakit dan kartu pemeliharaan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Bagi tertanggung yang memerlukan pelayanan gawat darurat dapat langsung ke rumah sakit.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Dalam waktu 3 (tiga) hari sejak mulai dirawat tenaga kerja atau keluarganya harus mengurus surat jaminan dari Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Jumlah hari rawat inap maksimum 60 (enam puluh) hari termasuk perawatan ICU/ICCU untuk setiap jenis penyakit dalam satu tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Jumlah hari perawatan ICU/ICCU  sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) maksimum 20 (dua puluh) hari.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Standard rawat inap sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Kelas dua pada Rumah Sakit Pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Kelas tiga pada Rumah Sakit swasta</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 35</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pelayanan Persalinan diberikan oleh pelaksana pelayanan kesehatan tingkat pertama atau rumah bersalin dengan membawa kartu pemeliharaan kesehatan</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Dalam hal persalinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat ditangani maka tenaga kerja/isteri dirujuk ke rumah sakit bersalin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 36</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pembayaran kepada pelaksana kesehatan dilakukan secara  praupaya dengan system kapitasi.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Badan Penyelenggara menunjuk pelaksana pelayanan kesehatan dengan pembayaran system kapitasi yang disepakati oleh kedua belah pihak yang dituangkan dalam perjanjian tertulis</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sekurang-kurangnya memuat:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Ruang lingkup pelayanan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Pembiayaan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Tata cara pembayaran.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.   Tata cara penagihan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">e.    Harga masing-masing jenis pelayanan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">f.     Kewajiban dan tanggung jawab pelaksana pelayanan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">g.    Perselisihan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">h.    Masa berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 37</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Setiap peserta memilih pelaksana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang ada di wilayah tempat tinggal atau tempat kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Bagi peserta dan atau keluarganya yang sedang bepergian dapat memperoleh pelayanan kesehatan pada pelaksana pelayanan kesehatan yang ditunjuk oleh Badan Penyelenggara selain yang telah dipilih oleh peserta.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Peserta dan keluarganya dapat dirujuk pada pelaksana pelayanan kesehatan lanjutan/lengkap di daerah lain dalam hal dipandang perlu oleh dokter yang merawat.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Bagi peserta dan keluarga yang terpisah alamat domisilinya memperoleh pelayanan kesehatan pada pelaksana pelayanan kesehatan yang ditunjuk oleh Badan Penyelenggara di masing-masing domisili sesuai dengan pilihannya.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Biaya transportasi dan biaya akomodasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi beban peserta.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 38</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Badan Penyelenggara menilai setiap pelaksana pelayanan kesehatan antara lain mengenai kunjungan, pemakaian obat, rujukan penunjang diagnostik, lamanya perawatan dalam rangka memenuhi efisiensi dan efektivitas pelaksana pelayanan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 39</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pelaksanaan penilaian kerja sejawat dilakukan bersama-sama antara Badan Penyelenggara dengan kantor wilayah Departemen Kesehatan setempat dan dokter ahli atau direktur medik di rumah sakit, terutama bila terjadi keluhan pasien atas tindakan dokter kepada pasien.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 40</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Tiap pelaksana pelayanan kesehatan mengadakan administrasi yang khusus dalam penyelenggaraan program jaminan pemeliharaan kesehatan termasuk pembuatan kartu pasien per keluarga (Family Folder) sesuai prinsip dokter keluarga</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Tiap pelaksana pelayanan kesehatan membuat laporan setiap bulan dan menyerahkan kepada Badan Penyelenggara selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 41</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hal-hal yang tidak ditanggung dalam program jaminan pemeliharaan kesehatan oleh Badan Penyelenggara:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Pelayanan:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.1       Pelayanan kesehatan diluar pelaksana pelayanan kesehatan yang ditunjuk.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.2       Penyakit atau cidera yang diakibatkan karena hubungan kerja dan karena kesengajaan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.3       Penyakit yang diakibatkan oleh alkohol dan narkotik, penyakit kelamin dan AIDS.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.4       Perawatan kosmetik untuk kecantikan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.5       Pemeriksaan kesehatan umum/berkala.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.6       Transplantasi organ tubuh termasuk sumsum tulang.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.7       Pemeriksaan dan tindakan untuk mendapatkan kesuburan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.8       Penyakit kanker dan</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">a.9       Hemodialisa</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Obat-obatan:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">b.1       Obat-obatan kosmetik untuk kecantikan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">b.2.      Semua obat/vitamin yang tidak ada kaitannya dengan penyakit.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">b.3.      Obat-obatan berupa makanan antara lain susu untuk bayi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">b.4.      Obat-obat gosok seperti minyak kayu putih dan sejenisnya.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">b.5.      Obat-obatan untuk kesuburan dan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">b.6.      Obat-obat kanker.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Alat-alat perawatan kesehatan  antara lain termometer, dan eskap.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.   Pembiayaan :</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">d.1.      Biaya pengangkutan untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan pengurusan administrasi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">d.2.      Biaya tindakan medik super spesialistik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 42</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pengusaha yang telah mengusahakan sendiri pelayanan kesehatan bagi tenaga kerjanya, diwajibkan melaporkan kepada Kantor Departemen Tenaga Kerja setempat dengan tembusan kepada Badan Penyelenggara setempat.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara triwulan yang memuat:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">a.    Standar pelayanan yang diberikan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">b.   Tertanggung yang mendapat pelayanan pemeliharaan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">c.    Jenis dan jumlah pelaksana pelayanan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">d.   Jumlah tenaga kerja dan keluarganya yang mendapat pelayanan pemeliharaan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 43</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Peningkatan manfaat jaminan dan perluasan cakupan layanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 27, pasal 29 dan pasal 41, untuk selanjutnya ditetapkan oleh Menteri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">BAB  VIII<br />
BENTUK  FORMULIR JAMSOSTEK</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 44</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Bentuk-bentuk  formulir yang dipergunakan dalam penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga  kerja sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Menteri ini yang terdiri  dari :
<ol>
<li>Formulir pendaftaran  kepesertaan meliputi:</li>
<li>Formulir Jamsostek  1 :  Pendaftaran Perusahaan</li>
<li>Formulir Jamsostek  1a    : Pendaftaran Tenaga Kerja dan  Pemberitahuan Perubahan Indentitas Tenaga Kerja dan Susunan Keluarga</li>
<li>Formulir Jamsostek  1b    :         Daftar  Tenaga Kerja Keluar</li>
<li>Formulir pembayaran  iuran meliputi:</li>
<li>Formulir Jamsostek  2 : Rekapitulasi Rincian Pembayaran Iuran</li>
<li>Formulir Jamsostek  2a   :          Rincian  Iuran Tenaga Kerja</li>
<li>Formulir pengajuan  dan pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja meliputi:</li>
<li>Formulir Jamsostek  3 :  Laporan Kecelakaan Kerja Tahap I</li>
<li>Formulir Jamsostek  3a    :         Laporan  Kecelakaan Kerja Tahap II</li>
<li>Formulir Jamsostek  3b    :         Surat  Keterangan Dokter</li>
<li>Formulir Jamsostek  3c    : Surat keterangan dokter untuk  penyakit yang timbul karena hubungan kerja</li>
<li>Formulir pengajuan  Jaminan Kematian:</li>
<li>Formulir Jamsostek  4 : Pengajuan Pembayaran Jaminan Kematian,   Santunan Berkala dan Jaminan Hari Tua.</li>
<li>Formulir pengajuan  Jaminan Hari Tua:</li>
<li>Formulir Jamsostek  5 : Pengajuan pembayaran Jaminan Hari Tua</li>
</ol>
</li>
<li>Contoh  bentuk-bentuk formulir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), terlampir dalam  Peraturan Menteri ini.</li>
<li>Perubahan bentuk  Formulir Jamsostek sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ditetapkan oleh Badan  Penyelenggara.</li>
</ol>
<p style="text-align: center;">BAB.  IX<br />
KETENTUAN  LAIN</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 45</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Badan Penyelenggara  wajib memberitahukan secara tertulis kepada pengusaha, tenaga kerja atau ahli  waris tenaga kerja mengenai perhitungan jaminan sosial tenaga kerja yang  menjadi hak pengusaha, tenaga kerja atau ahli waris.</li>
<li>Pemberitahuan  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dalam  jangka waktu 70 (tujuh puluh) hari.</li>
<li>Dalam hal jangka  waktu 70 (tujuh puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah berakhir  maka perhitungan jaminan tersebut dibatalkan.</li>
<li>Dalam hal  pengusaha, tenaga kerja atau ahli waris tenaga kerja mengajukan permintaan  pembayaran jaminan kembali setelah melewati jangka waktu sebagaimana dimaksud  pada ayat (3) maka Badan Penyelenggara wajib menghitung dan membayar jaminan  sesuai ketentuan yang berlaku.</li>
</ol>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">BAB  X<br />
KETENTUAN  PERALIHAN</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 46</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Peraturan Menteri  Tenaga Kerja Nomor  Per-05/MEN/1993  tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran  Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, masih tetap berlaku sampai  dengan berlakunya Peraturan Menteri ini.</li>
<li>Bagi tenaga kerja  yang menjadi peserta program jaminan sosial tenaga kerja sebelum berlakunya  peraturan Menteri ini wajib mengisi formulir Jamsostek 1a sebagaimana  ditetapkan dalam lampiran Peraturan Menteri ini dan menyerahkan kepada Badan  Penyelenggara.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">BAB  XI</p>
<p style="text-align: center;">KETENTUAN  PENUTUP</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 47</strong><br />
Dengan  ditetapkan Peraturan Menteri ini maka Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor  Per-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran  Iuran, Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Keputusan  Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep-236/MEN/2003 tentang Perubahan  Atas Pasal 23, Pasal 25, Pasal 27 dan Pasal 43 Peraturan Menteri Tenaga Kerja  Nomor PER-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan,  Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga  Kerja, serta Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.  Per-01/MEN/I/2005 tentang Perubahan Formulir Jamsostek 1, 1a, 1b, dan 2a pada  Lampiran Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-05/MEN/1993 tentang Petunjuk  Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan dan  Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagaimana diubah terakhir Keputusan  Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-03/MEN/2001, dinyatakan tidak  berlaku lagi.</p>
<p><strong>Pasal 48</strong></p>
<p>Peraturan  Menteri ini berlaku sejak tanggal 1 Januari 2008.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">Ditetapkan di Jakarta</p>
<p style="text-align: center;">Pada tanggal 19 – 6 – 2007</p>
<p style="text-align: center;">MENTERI</p>
<p style="text-align: center;">TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: center;">TTD</p>
<p style="text-align: center;">ERMAN SUPARNO</p>
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/kep-226men2000-perubahan-pasal-1-pasal-3-pasal-4-pasal-8-pasal11-pasal20-dan-pasal-21-peraturan-menteri-tenaga-kerja-nomor-per-01men1999-tentang-upah-minimum" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP-226/MEN/2000 &#8211; PERUBAHAN PASAL 1,  PASAL 3, PASAL 4, PASAL 8, PASAL,11, PASAL20, DAN PASAL 21 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA &#8211; NOMOR PER-01/MEN/1999 TENTANG UPAH MINIMUM</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-229men2003-tata-cara-perizinan-dan-pendaftaran-lembaga-pelatihan-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 229/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PERIZINAN DAN PENDAFTARAN  LEMBAGA PELATIHAN KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-228men2003-tata-cara-pengesahan-rencana-penggunaan-tenaga-kerja-asing" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 228/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENGESAHAN RENCANA PENGGUNAAN  TENAGA KERJA ASING</a></li><li><a href="http://indosdm.com/masalah-masalah-dalam-pelaksanaan-outsourcing" rel="bookmark" class="wherego_title">Masalah-Masalah Dalam Pelaksanaan Outsourcing</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-230men2003-golongan-dan-jabatan-tertentu-yang-dapat-dipungut-biaya-penempatan-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=1057&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PER &#8211; 12/MEN/VI/2007 &#8211; PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PER &#8211; 12/MEN/VI/2007 &#8211; PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-no14-th-1993-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PER &#8211; 12/MEN/VI/2007 &#8211; PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</title>
		<link>http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja</link>
		<comments>http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 19:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[JAMSOSTEK]]></category>
		<category><![CDATA[PER - 12/MEN/VI/2007]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan menteri]]></category>
		<category><![CDATA[Permen]]></category>
		<category><![CDATA[Permen nakertrans]]></category>
		<category><![CDATA[PETUNJUK TEKNIS JAMSOSTEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=1051</guid>
		<description><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER - 12/MEN/VI/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA

(Bagian 1 dari 2)
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-no14-th-1993-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 64 TAHUN 2005 TENTANG...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">(Bagian 1 dari 2)</p>
<p style="text-align: center;">PERATURAN</p>
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">NOMOR: PER &#8211; 12/MEN/VI/2007</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">TENTANG</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><strong>PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA.</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Menimbang :</p>
<p style="text-align: justify;">a.       bahwa dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, perlu diatur petunjuk teknis pendaftaran kepesertaan, pembayaran iuran, pembayaran santunan, dan pelayanan jaminan sosial tenaga kerja;</p>
<p style="text-align: justify;">b.      bahwa Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : Per-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja perlu diubah dan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan;</p>
<p style="text-align: justify;">c.       bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada huruf a dan huruf b perlu ditetapkan dengan Peraturan Menteri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mengingat :</p>
<p style="text-align: justify;">1.      Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja ( LN RI Tahun  1992 No.14 Tambahan LN RI No. 3468).</p>
<p style="text-align: justify;">2.      Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara RI Tahun 1993 No. 20, Tambahan Lembaran Negara RI No. 3520):</p>
<p style="text-align: justify;">3.      Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja;</p>
<p style="text-align: justify;">4.      Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2004 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Jaminan sosial Tenaga Kerja;</p>
<p style="text-align: justify;">5.      Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja</p>
<p style="text-align: justify;">6.      Keputusan Presiden RI Nomor 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang timbul karena hubungan kerja</p>
<p style="text-align: justify;">7.      Keputusan Presiden Nomor : 187/M tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu;</p>
<p style="text-align: justify;">8.      Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-06/MEN/1990 tentang Kewajiban Pengusaha Untuk Membuat, Memiliki dan Memelihara Buku Upah;</p>
<p style="text-align: justify;">9.      Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-01/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dengan Manfaat Lebih Baik.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">MEMUTUSKAN</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Menetapkan :</p>
<p style="text-align: justify;">PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN, PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">BAB I</p>
<p style="text-align: center;">PENGERTIAN</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :</p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Badan Penyelenggara adalah PT. Jamsostek (Persero).</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pelaksana Pelayanan Kesehatan tingkat pertama adalah dokter umum, dokter gigi Pusat Kesehatan Masyarakat atau pelayanan kesehatan lainnya yang ditunjuk oleh Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Pelaksana Pelayanan Kesehatan  tingkat lanjutan adalah dokter spesialis dan rumah sakit yang ditunjuk oleh Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Tertanggung adalah tenaga kerja dan atau keluarga yang terdaftar dalam program jaminan pemeliharaan kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Keluarga adalah :</p>
<p style="text-align: justify;">a.       Suami atau isteri yang sah menjadi tanggungan tenaga kerja dan terdaftar pada Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">b.       Anak kandung, anak angkat, anak tiri yang belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun, belum menikah, tidak mempunyai pekerjaan, yang menjadi tanggungan tenaga kerja maksimal 3 (tiga) orang dan terdaftar pada Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">(6)  Menteri adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">BAB II</p>
<p style="text-align: center;">PENDAFTARAN KEPESERTAAN</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)  Setiap pengusaha yang mengajukan pendaftaran kepesertaan program jaminan sosial tenaga kerja kepada Badan Penyelenggara harus mengisi formulir:</p>
<p style="text-align: justify;">a.       Pendaftaran perusahaan (formulir Jamsostek 1).</p>
<p style="text-align: justify;">b.       Pendaftaran tenaga kerja (formulir Jamsostek 1a).</p>
<p style="text-align: justify;">c.       Daftar upah/rincian iuran tenaga kerja (formulir Jamsostek 2a).</p>
<p style="text-align: justify;">(2)   Setiap tenaga kerja yang telah menjadi peserta program jaminan sosial tenaga kerja sebelum Peraturan Menteri ini berlaku  yang akan diikutsertakan pada program jaminan pemeliharaan kesehatan harus mengisi formulir Jamsostek 1a dan menyerahkan kepada Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)   Pengusaha harus menyampaikan formulir Jamsostek sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada Badan Penyelenggara selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya formulir tersebut oleh pengusaha yang bersangkutan yang dibuktikan dengan tanda terima atau tanda terima pengirirman pos dan diterima oleh Badan Penyelenggara sebelum efektif berlakunya kepesertaan.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)   Kepesertaan dalam program jaminan sosial tenaga kerja dimulai sejak tanggal 1 (satu), bulan sebagaimana dinyatakan pada formulir Jamsostek 1.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pasal 3</p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Berdasarkan pengajuan pendaftaran dari pengusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), Badan Penyelenggara menetapkan besarnya iuran Jaminan Kecelakaan Kerja sesuai dengan kelompok jenis usahanya dan memberitahukan besarnya iuran program jaminan sosial tenaga kerja kepada pengusaha.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Badan Penyelenggara menerbitkan  sertifikat kepesertaan, kartu peserta dan kartu pemeliharaan kesehatan paling lambat 7 (tujuh) hari sejak formulir pendaftaran diterima secara lengkap dan iuran pertama dibayar.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Bentuk sertifikat kepesertaan untuk pengusaha, kartu peserta untuk tenaga kerja dan kartu pemeliharaan kesehatan untuk tertanggung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 4</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)  Pengusaha wajib melaporkan kepada Badan Penyelenggara apabila terjadi :</p>
<p style="text-align: justify;">a.       Perubahan data perusahaan dengan mengisi formulir Jamsostek 1.</p>
<p style="text-align: justify;">b.      Penambahan tenaga kerja dengan mengisi formulir Jamsostek 1a.</p>
<p style="text-align: justify;">c.       Pengurangan tenaga kerja karena tenaga kerja berhenti bekerja atau meninggal dunia dengan mengissi formulir Jamsostek 1b;</p>
<p style="text-align: justify;">d.      Perubahan terhadap identitas data tenaga kerja dan susunan keluarga, dengan mengisi formulir 1a;</p>
<p style="text-align: justify;">e.       Perubahan upah dan atau tenaga kerja dengan mengisi formulir Jamsostek 2a.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)   Pelaporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan pada bulan terjadinya penambahan dan atau pengurangan tenaga kerja serta perubahan terhadap identitas data tenaga kerja dan susunan keluarga yang harus sudah diterima oleh Badan Penyelenggara paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak  terjadi perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)   Dalam hal perubahan identitas data tenaga kerja dan keluarganya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terlambat dilaporkan oleh pengusaha kepada Badan Penyelenggara, apabila terjadi risiko yang dialami oleh tenaga kerja dan keluarganya menjadi tanggung jawab pengusaha.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">BAB III</p>
<p style="text-align: center;">PEMBAYARAN IURAN</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 5</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pengusaha wajib membayar iuran pertama kali secara lunas untuk bulan mulainya menjadi peserta sebagaimana dinyatakan oleh pengusaha dalam formulir Jamsostek 1, pada bulan yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Besarnya iuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dihitung berdasarkan rincian iuran untuk masing-masing tenaga kerja sesuai dengan program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana tercantum dalam formulir Jamsostek 2a.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Iuran setiap bulan wajib dibayar oleh pengusaha secara berurutan dihitung berdasarkan upah bulan yang bersangkutan yang diterima oleh tenaga kerja dan dibayarkan paling lambat tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya kepada Badan Penyelenggara dengan melampirkan formulir Jamsostek 2 dan formulir Jamsostek 2a untuk bulan yang bersangkutan beserta data pendukungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Dalam hal tidak terdapat perubahan upah, jumlah tenaga kerja dan program jaminan sosial tenaga kerja yang diikuti pembayaran iuran setiap bulan oleh perusahaan kepada Badan Penyelenggara cukup dengan melampirkan formulir Jamsostek 2.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Apabila pengusaha membayar iuran setiap bulan tidak berurutan, Badan Penyelenggara memperhitungkan sebagian atau seluruh iuran bulan berikutnya untuk melunasi kekurangan iuran bulan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(6)     Apabila pengusaha membayar iuran kurang dari yang sebenarnya maka Badan Penyelenggara memperhitungkan sebagian atau seluruh iuran bulan berikutnya untuk melunasi kekurangan iuran bulan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(7)     Apabila pengusaha karena sesuatu hal tidak dapat memenuhi kewajibannya membayar iuran setiap bulan, tetap wajib menyampaikan formulir Jamsostek 2 dan formulir Jamsostek 2a untuk bulan yang bersangkutan kepada Badan Penyelenggara atau hanya menyampaikan formulir Jamsostek 2 apabila pada bulan yang bersangkutan tidak terjadi perubahan upah, jumlah tenaga kerja dan program jaminan sosial tenaga kerja yang diikuti.</p>
<p style="text-align: justify;">(8)     Pengusaha yang tidak memenuhi ketentuan iuran sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) dan ayat (3), dikenakan denda sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan merupakan piutang Badan Penyelenggara terhadap pengusaha.</p>
<p style="text-align: justify;">(9)     Iuran yang diterima oleh Badan Penyelenggara diberikan bukti penerimaan iuran yang bentuknya ditetapkan oleh Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 6</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Badan Penyelenggara wajib menyampaikan surat pemberitahuan kepada pengusaha yang belum memenuhi kewajiban membayar iuran dan atau belum menyampaikan formulir 2a sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (3), paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah batas hari terakhir kewajiban pengusaha membayar iuran dengan tembusan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Badan Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran kepada pengusaha yang bersangkutan selambat lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya iuran dan atau formulir Jamsostek 2a.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Pengusaha wajib menyelesaikan kelebihan atau kekurangan iuran sebagaimana dimaksud ayat (2), dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah diterimanya surat pemberitahuan dari Badan Penyelenggara, selambat-lambatnya bersamaan dengan pembayaran iuran bulan berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Apabila terjadi kelebihan pembayaran iuran oleh pengusaha maka akan diperhitungkan dengan iuran bulan berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Apabila iuran yang diterima oleh Badan Penyelenggara belum sama dengan jumlah iuran yang tercantum pada formulir Jamsostek 2a untuk bulan yang bersangkutan, maka iuran tersebut belum dapat dirinci kedalam akun individu Jaminan Hari Tua masing-masing peserta dan program lainnya oleh Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 7</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal pengusaha menunggak iuran 1 (satu) bulan maka:</p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pengusaha wajib membayar terlebih dahulu Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian yang menjadi hak tenaga kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pengusaha wajib memberikan terlebih dahulu pelayanan pemeliharaan kesehatan kepada tenaga kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Badan Penyelenggara akan mengganti jaminan yang menjadi hak tenaga kerja kepada pengusaha sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) dan angka 2 (dua) sesuai dengan ketentuan yang berlaku setelah pengusaha membayar seluruh tunggakan iuran beserta dendanya.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Permintaan penggantian jaminan yang menjadi hak tenaga kerja oleh pengusaha kepada Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) dan angka 2 (dua), tidak boleh melebihi jangka waktu 3 (tiga) bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Badan Penyelenggara wajib membayar penggantian jaminan sebagaimana dimaksud angka 4 (empat) paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak dokumen pendukung dinyatakan lengkap.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">BAB IV</p>
<p style="text-align: center;">PELAPORAN PENGAJUAN DAN PEMBAYARAN JAMINAN KECELAKAAN<br />
KERJA.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 8</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pengusaha wajib melaporkan setiap kecelakaan kerja yang menimpa tenaga kerjanya kepada Instansi yang bertanggung jawab di bidang Ketenagakerjaan dan Badan Penyelenggara setempat sebagai laporan kecelakaan kerja tahap I dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam terhitung sejak terjadinya kecelakaan dengan mengisi formulir Jamsostek 3, serta melampirkan foto copy kartu peserta.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Pengusaha wajib mengirimkan laporan kecelakaan kerja tahap II kepada Instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dan Badan Penyelenggara setempat dengan mengisi formulir Jamsostek 3a dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam setelah tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berdasarkan surat keterangan dokter yang menerangkan:</p>
<p style="text-align: justify;">a.          keadaan sementara tidak mampu bekerja telah berakhir; atau</p>
<p style="text-align: justify;">b.         keadaan cacat sebagian untuk selama-lamanya; atau</p>
<p style="text-align: justify;">c.          keadaan cacat total untuk selama-lamanya baik fisik maupun mental; atau</p>
<p style="text-align: justify;">d.         meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Surat keterangan dokter sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) menggunakan formulir Jamsostek 3b.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 9</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Pengusaha wajib melaporkan penyakit yang timbul karena hubungan kerja dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam dengan mengisi formulir Jamsostek 3 sejak menerima hasil diagnosis dari dokter pemeriksa.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Dalam hal penyakit yang timbul karena hubungan kerja surat keterangan dokter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menggunankan Formulir Jamsostek 3c.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 10</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Laporan Kecelakaan Kerja tahap II (Form.Jamsostek 3 a) yang disampaikan kepada Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) berfungsi sebagai pengajuan permintaan pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja kepada Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Penyampaian Formulir Jamsostek 3a sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disertai bukti-bukti :</p>
<p style="text-align: justify;">a.       Fotocopy kartu peserta ;</p>
<p style="text-align: justify;">b.       Surat Keterangan Dokter formulir Jamsostek 3b atau 3c ;</p>
<p style="text-align: justify;">c.       Kuitansi Biaya Pengobatan dan Pengangkutan ;</p>
<p style="text-align: justify;">d.       Dokumen pendukung lain yang diperlukan.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Dalam hal bukti-bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak lengkap, maka Badan Penyelenggara memberitahukan kepada Pengusaha selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak Laporan Kecelakan Kerja tahap II diterima.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 11</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Berdasarkan pengajuan permintaan pembayaran jaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1), Badan Penyelenggara menghitung besarnya santunan dan penggantian biaya.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Berdasarkan perhitungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Badan Penyelenggara membayar penggantian biaya kepada pengusaha dan membayar santunan kepada tenaga kerja atau keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Dalam hal Jaminan Kecelakaan Kerja dibayar terlebih dahulu oleh Pengusaha maka Badan Penyelenggara membayar penggantian jaminan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada Pengusaha sebesar perhitungan Badan Penyelenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Dalam hal perhitungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) lebih besar dari Jaminan Kecelakaan Kerja yang telah dibayarkan oleh Pengusaha, kelebihannya diserahkan kepada tenaga kerja yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 12</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Dalam hal  terjadi perbedaan penetapan mengenai Kecelakaan Kerja atau bukan Kecelakaan Kerja, maka Pengusaha atau tenaga kerja/keluarga atau Badan Penyelenggara mememinta Penetapan kepada Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Berdasarkan permintaan  sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pegawai pengawas ketenagakerjaan dan petugas Badan Penyelenggara mengadakan penelitian dan pemeriksaan atas kecelakaan dimaksud;</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Berdasarkan hasil penelitian dan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pegawai pengawas ketenagakerjaan membuat penetapan kecelakaan kerja atau bukan kecelakaan kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Dalam hal penetapan pegawai pengawas ketenagakerjaan tidak dapat diterima oleh salah satu pihak maka pihak yang bersangkutan mengajukan kepada Menteri.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Sambil  menunggu  penetapan Menteri sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), maka pengusaha wajib membayar terlebih dahulu biaya pengangkutan, pengobatan dan perawatan kepada tenaga kerja sesuai ketentuan yang berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">(6)     Dalam hal menteri menetapkan  kecelakaan kerja maka Badan Penyelenggara wajib membayar Jaminan Kecelakaan Kerja sesuai dengan ketentuan yang  berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">(7)     Dalam hal Menteri menetapkan bukan kecelakaan kerja dan tenaga kerja yang bersangkutan diikut sertakan dalam program JPK, maka biaya pengobatan dan perawatan dapat dibebankan dalam program JPK sesuai ketentuan yang berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 13.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Dalam hal terjadi perbedaan besarnya santunan yang diterima oleh tenaga kerja/keluarganya disebabkan adanya pelaporan yang tidak benar oleh pengusaha kepada Badan Penyelenggara maka tenaga kerja yang bersangkutan meminta perhitungan kembali kepada pegawai pengawas ketenagakerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Berdasarkan permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pegawai pengawas ketenagakerjaan meminta pertimbangan dokter penasehat untuk menetapkan presentase cacat.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Dalam hal penetapan pegawai pengawas ketenagakerjaan tidak dapat diterima oleh salah satu pihak, maka pihak yang bersangkutan dapat mengajukan keberatan kepada menteri.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Sambil menunggu penetapan menteri sebagaimana dimaksud ayat (3) dan tenaga kerja dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawat, Badan Penyelenggara membayar biaya penggantian pengangkutan, pengobatan, perawatan dan santuan sementara tidak mampu bekerja kepada pengusaha, sedangkan santuan cacat baru dibayarkan setelah ada penetapan menteri.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Apabila Menteri menetapkan presentase cacat sebagaimana dimaksud ayat (3), maka Badan Penyelenggara menghitung dan membayarkan besarnya JKK kepada yang berhak.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 14</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Dalam hal terjadi perbedaan besarnya santunan yang diterima oleh tenaga kerja/keluarganya disebabkan adanya pelaporan yang tidak benar oleh pengusaha kepada Badan Penyelenggara maka tenaga kerja yang bersangkutan meminta perhitungan kembali kepada pegawai pengawas ketenagakerjaan</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Berdasarkan permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pegawai pengawas ketenagakerjaan menghitung kembali besarnya santunan berdasarkan upah satu bulan terakhir sebelum terjadinya kecelakaan.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Dalam hal besarnya santunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) lebih besar daripada santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara, maka pengusaha wajib membayar kekurangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Dalam hal penetapan pegawai pengawas ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tidak dapat diterima oleh pengusaha atau tenaga kerja/keluarganya, maka pihak yang bersangkutan dapat mengajukan kepada menteri.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Penetapan menteri sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) merupakan keputusan akhir dan wajib dilaksanakan oleh pihak yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">BAB V</p>
<p style="text-align: center;">PENGAJUAN DAN PEMBAYARAN JAMINAN KEMATIAN.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 15</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Dalam hal tenaga kerja meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja, pengusaha atau keluarga tenaga kerja mengajukan permintaan pembayaran Jaminan Kematian kepada Badan Penyelenggara dengan mengisi formulir Jamsostek 4. dengan melampirkan : a.Kartu peserta Jamsostek (KPJ) asli; b.Surat keterangan kematian dari rumah sakit/kepolisian/kelurahan c.Identitas keluarga yang masih berlaku (foto copy kartu tanda penduduk/Surat ijin</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     mengemudi dan kartu keluarga) yang masih berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Berdasarkan pengajuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka Badan Penyelenggara membayar Jaminan Kematian dan santunan berkala kepada keluarga tenaga kerja yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 16</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Peserta program kematian masih berhak mendapat perlindungan Jaminan Kematian selama 6 (enam) bulan sejak tenaga kerja yang bersangkutan berhenti bekerja</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Keluarga dari peserta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengajukan permintaan pembayaran Jaminan Kematian kepada Badan Penyelenggara dengan melampirkan :</p>
<p style="text-align: justify;">a.          Formulir Jamsostek 4;</p>
<p style="text-align: justify;">b.         Surat keterangan kematian dari rumah sakit/kepolisian/kelurahan;</p>
<p style="text-align: justify;">c.          Identitas keluarga yang masih berlaku (foto copy kartu tanda penduduk/Surat ijin mengemudi dan kartu keluarga) yang masih berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">BAB VI</p>
<p style="text-align: center;">PENGAJUAN DAN PEMBAYARAN JAMINAN HARI TUA</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 17</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Tenaga kerja yang telah menerima pemberitahuan 30 (tiga puluh) hari sebelum usia 55 (lima puluh lima) tahun, maka tenaga kerja yang bersangkutan melalui pengusaha mengajukan permintaan pembayaran Jaminan Hari Tua kepada Badan Penyelenggara dengan mengisi formulir Jamsostek 5 selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah menerima pemberitahuan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Berdasarkan pengajuan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Badan Penyelenggara menetapkan dan membayarkan Jaminan Hari Tua secara sekaligus atau berkala sesuai dengan pilihan tenaga kerja yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Dalam hal tenaga kerja meninggal dunia dan masih berhak menerima Jaminan Hari Tua secara berkala, maka keluarga tenaga kerja yang bersangkutan mengajukan permintaan pembayaran sisa jaminannya kepada Badan Penyelenggara dengan disertai surat kematian dan selanjutnya Badan Penyelenggara membayarkan secara sekaligus kepada ahli waris tenaga kerja yang bersangkutan</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 18</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Tenaga kerja yang berhenti bekerja dari perusahaan sebelum usia 55 (lima puluh lima) tahun dan telah mempunyai masa kepesertaan aktif (membayar iuran ) maupun non aktif (tidak membayar iuran) sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun, dan setelah melewati masa tunggu 6 (enam) bulan maka tenaga kerja dapat mengajukan permintaan pembayaran Jaminan Hari Tua kepada Badan Penyelenggara dengan mengisi formulir Jamsostek 5 dengan melampirkan:</p>
<p style="text-align: justify;">a.          Kartu Peserta Jamsostek (KPJ) asli.</p>
<p style="text-align: justify;">b.         Surat keterangan pemberhentian bekerja dari perusahaan atau penetapan pengadilan hubungan industrial;</p>
<p style="text-align: justify;">c.          Kartu Identitas (foto copy kartu tanda penduduk/Surat ijin mengemudi dan kartu keluarga) yang masih berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Masa kepesertaan sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dihitung sejak pembayaran iuran pertama program Jaminan Hari Tua berdasarkan PP No. 14 Tahun 1993.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Berdasarkan pengajuan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Badan Penyelenggara menghitung dan membayar Jaminan Hari Tua secara sekaligus kepada tenaga kerja yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 19</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Tenaga kerja yang meninggalkan wilayah Republik Indonesia untuk selama-lamanya, dapat mengajukan permintaan pembayaran Jaminan Hari Tua dengan menyerahkan kartu peserta dan mengisi formulir Jamsostek 5 disertai dengan bukti-bukti:</p>
<p style="text-align: justify;">a.          Pernyataan tidak bekerja lagi di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">b.         Foto copy pasport.</p>
<p style="text-align: justify;">c.          Foto copy Visa bagi tenaga kerja Warga Negara Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Berdasarkan pengajuan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Badan Penyelenggara menghitung dan membayarkan Jaminan Hari Tua secara sekaligus kepada tenaga kerja yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 20</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Tenaga Kerja yang menyandang cacat total tetap untuk selama-lamanya, berhak mengajukan permintaan pembayaran Jaminan Hari Tua dengan mengisi formulir Jamsostek 5, disertai bukti-bukti:</p>
<p style="text-align: justify;">a. kartu peserta Jamsostek</p>
<p style="text-align: justify;">b. surat keterangan dokter.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Berdasarkan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Badan Penyelenggara menghitung dan membayar Jaminan Hari Tua secara sekaligus atau berkala kepada tenaga kerja sesuai pilihan tenaga kerja yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 21</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(1)     Besarnya Jaminan Hari Tua adalah keseluruhan iuran Jaminan Hari Tua yang telah disetorkan oleh pengusaha kepada Badan Penyelenggara beserta hasil pengembangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">(2)     Hasil pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Badan Penyelenggara yang besarnya sesuai dengan hasil pengelolaan dan investasi dana iuran Jaminan Hari Tua.</p>
<p style="text-align: justify;">(3)     Hasil pengembangan Jaminan Hari Tua untuk masing-masing tenaga kerja dihitung sejak tanggal iuran dibayar lunas.</p>
<p style="text-align: justify;">(4)     Iuran dan hasil pengembangan akan dibukukan dalam akun individu masing-masing tenaga kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">(5)     Tenaga kerja yang telah mencapai usia 55 (lima puluh lima) tahun maka tenaga kerja yang bersangkutan melalui pegusaha mengajukan permintaan pembayaran Jaminan Hari Tua kepada Badan Penyelenggara dengan mengisi formulir Jamsostek 5</p>
<p style="text-align: justify;">(6)     Jaminan Hari Tua akan dibayar oleh Badan Penyelenggara sebesar sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4).</p>
<p style="text-align: justify;">(7)     Dalam hal terjadi kekurangan pembayaran Jaminan Hari Tua yang  menjadi hak tenaga kerja yang disebabkan pengusaha menunggak atau kurang membayar iuran maka pengusaha wajib membayar kekurangan Jaminan Hari Tua yang menjadi hak tenaga kerja</p>
<p style="text-align: justify;">(8)     Badan Penyelenggara membayar kekurangan Jaminan Hari Tua setelah pengusaha melunasi kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (7).</p>
<p style="text-align: justify;">(9)     Berdasarkan pengajuan permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat  (5) Badan Penyelenggara menetapkan dan membayarkan Jaminan Hari Tua sekaligus atau berkala sesuai dengan pilihan tenaga kerja yang bersangkutan sesuai ketentuan yang berlaku.</p>
<p style="text-align: justify;">(10) Dalam hal tenaga kerja meninggal dunia dan masih berhak menerima Jaminan Hari Tua secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (9), maka keluarga tenaga kerja yang bersangkutan mengajukan permintaan pembayaran sisa Jaminan Hari Tuanya kepada Badan Penyelenggara dengan disertai surat kematian dan selanjutnya Badan Penyelenggara membayarkan secara sekaligus kepada ahli waris tenaga kerja yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>(Bersambung)</strong></p>
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/kep-232men2003-akibat-hukum-mogok-kerja-yang-tidak-sah" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 232/MEN/2003 &#8211; AKIBAT HUKUM MOGOK KERJA YANG TIDAK SAH</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-67meniv2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP-67/MEN/IV/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING</a></li><li><a href="http://indosdm.com/teknik-pengisian-form-penilaian-unjuk-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PERFORMANCE APPRAISAL: TEKNIK PENGISIAN FORM PENILAIAN UNJUK KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-230men2003-golongan-dan-jabatan-tertentu-yang-dapat-dipungut-biaya-penempatan-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep15amen1994-petunjuk-penyelesaian-perselisihan-hubungan-industrial-dan-pemutusan-hubungan-kerja-di-tingkat-perusahaan-dan-pemerantaraan" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP.15A/MEN/1994: PETUNJUK PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DI TINGKAT PERUSAHAAN DAN PEMERANTARAAN</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=1051&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-no14-th-1993-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 64 TAHUN 2005 TENTANG...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PER-03/MEN/I/2005: TATA CARA PENGUSULAN KEANGGOTAAN DEWAN PENGUPAHAN NASIONAL</title>
		<link>http://indosdm.com/per-03meni2005-tata-cara-pengusulan-keanggotaan-dewan-pengupahan-nasional</link>
		<comments>http://indosdm.com/per-03meni2005-tata-cara-pengusulan-keanggotaan-dewan-pengupahan-nasional#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 00:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Pengupahan]]></category>
		<category><![CDATA[PER-03/MEN/I/2005]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan menteri]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA]]></category>
		<category><![CDATA[Permen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :  PER-03/MEN/I/2005 TENTANG TATA CARA PENGUSULAN KEANGGOTAAN DEWAN PENGUPAHAN NASIONAL
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-255men2003-tata-cara-pembentukan-dan-susunan-keanggotaan-lembaga-kerjasama-bipartit' rel='bookmark' title='KEP. 255/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN  LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT'>KEP. 255/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN  LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-227men2003-tata-cara-penetapan-standard-kompetensi-kerja-nasional-indonesia' rel='bookmark' title='KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA'>KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-231men2003-tata-cara-penangguhan-pelaksanaan-upah-minimum' rel='bookmark' title='KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM'>KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<p style="text-align: center;">PERATURAN</p>
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA    KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: center;">NOMOR :    PER-03/MEN/I/2005</p>
<p style="text-align: center;">TENTANG</p>
<p style="text-align: center;"><strong>TATA CARA    PENGUSULAN KEANGGOTAAN</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>DEWAN    PENGUPAHAN NASIONAL</strong></p>
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA    KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p style="text-align: center;">REPUBLIK INDONESIA</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td>
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="18%" valign="top">Menimbang</td>
<td width="5%" valign="top">
<p align="center">:</p>
</td>
<td width="77%" valign="top">
<p style="text-align: justify;">bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 13 ayat (6) Keputusan Presiden Nomor      107 Tahun 2004 tentang Dewan Pengupahan, perlu diatur mengenai Cara      Pengusulan Keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional dengan Peraturan Menteri;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Mengingat</td>
<td valign="top">
<p align="center">:</p>
</td>
<td valign="top">
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="5%" valign="top">1.</td>
<td width="95%">Undang-undang Nomor 13 Tahun        2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun        2003 Nomor 39; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor        4279);</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2.</td>
<td>Keputusan        Presiden Republik Indonesia Nomor 107 Tahun 2004 tentang Dewan        Pengupahan;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">3.</td>
<td valign="top">Keputusan        Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan        Kabinet Indonesia Bersatu;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Memperhatikan-</strong></td>
<td valign="top">
<p align="center">:</p>
</td>
<td valign="top">
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="5%" valign="top">1.</td>
<td width="95%" valign="top">Pokok-pokok Pikiran        Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 2 Desember 2004;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2.</td>
<td valign="top">Kesepakatan        Rapat Pleno Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 13 Desember        2004;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3">
<p align="center">MEMUTUSKAN :</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><strong>Menetapkan</strong></td>
<td valign="top">
<p align="center">:</p>
</td>
<td valign="top">PERATURAN      MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA      PENGUSULAN KEANGGOTAAN DEWAN PENGUPAHAN NASIONAL.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center">
<p style="text-align: center;"><strong>BAB I</strong></p>
<p style="text-align: center;">KETENTUAN UMUM</p>
<p style="text-align: center;">Pasal 1</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" valign="top">Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :</td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: justify;" colspan="3" valign="top">
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="5%" valign="top">1.</td>
<td width="95%">Dewan Pengupahan Nasional yang selanjutnya disebut Depenas adalah        suatu lembaga non struktural yang bersifat triparti.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2.</td>
<td>Serikat Pekerja/Serikat Buruh adalah organisasi yang dibentuk        dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik diperusahaan maupun di luar        perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, dan tanggung jawab        guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan        pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan        keluarganya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">3.</td>
<td>Organisasi pengusaha adalah Asosiasi Pengusaha Indonesia(APINDO).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">4.</td>
<td>Perguruan Tinggi adalah Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">5.</td>
<td>Pakar adalah seseorang yang mempunyai keahlian dan pengalaman di        bidang pengupahan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">6.</td>
<td>Menten adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center">
<p style="text-align: center;"><strong>BAB II</strong></p>
<p style="text-align: center;">KEANGGOTAAN</p>
<p style="text-align: center;">Bagian Pertama</p>
<p style="text-align: center;">Jumlah Anggota</p>
<p style="text-align: center;">Pasal 2</p>
<p style="text-align: center;">Anggota Dewan Pengupahan Nasional berjumlah 23 (dua puluh      tiga) orang, yang terdiri dari :</p>
<p style="text-align: center;">a. unsur pemerintah sebanyak 10 (sepuluh) orang;</p>
<p style="text-align: center;">b. unsur serikat pekerja/serikat buruh sebanyak 5 (lima)      orang;</p>
<p style="text-align: center;">c. unsur organisasi pengusaha sebanyak 5 (lima) orang;dan</p>
<p style="text-align: center;">d. unsur perguruan tinggi dan pakar sebanyak 3 (tiga) orang.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Bagian kedua</strong></p>
<p style="text-align: center;">Keterwakilan      Masing-masing Unsur</p>
<p style="text-align: center;">Pasal 3</p>
<table style="text-align: center;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="5%">(1)</td>
<td style="text-align: justify;" width="95%">Keanggotaan Dewan        Pengupahan Nasional dan unsur pemerintah terdiri dari :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td style="text-align: left;" valign="top">a. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi        sebanyak 3(tiga) orang;</p>
<p>b. Kantor Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian 1(satu) orang;</p>
<p>c. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 1(satu) orang;</p>
<p>d. Badan Pusat Statistik 1(satu) orang;</p>
<p>e. Departemen Perindustrian 1 (orang);</p>
<p>f. Departemen Perdagangan 1 (satu) orang;</p>
<p>g. Departemen Pertanian 1(satu) orang;</p>
<p style="text-align: left;">h. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral 1(satu) orang.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">(2)</td>
<td>
<p style="text-align: justify;">Keanggotaan Dewan        Pengupahan Nasional dari unsur organisasi pengusaha diwakili oleh APINDO.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">(3)</td>
<td>
<p style="text-align: justify;">Keanggotaan Dewan        Pengupahan Nasional dari unsur serikat pekerja/serikat buruh ditetapkan        sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi        Nomor KEP. 16/MEN/2001 tentang Tata Cara Pencatatan Serikat        Pekerja/Serikat Buruh     dan Keputusan Menteri        Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP. 201/MEN/2001 tentang        Keterwakilan Dalam Kelembagaan     Hubungan        Industrial.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">(4)</td>
<td valign="top">
<p style="text-align: justify;">Keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional        dari unsur perguruan tinggi dan pakar terdiri dari :</p>
<p style="text-align: left;">a. Akademis;</p>
<p style="text-align: left;">b. Pakar Ekonomi.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">
<p align="center">
<p style="text-align: center;"><strong>BAB III</strong></p>
<p>PROSEDUR        PENGUSULAN KEANGGOTAAN</p>
<p>Bagian Kesatu</p>
<p>Unsur Pemerintah</p>
<p><strong>Pasal 4</strong></p>
<p>Calon anggota Dewan Pengupahan        Nasional dari unsur Departemen Tenaga Kerja dan Trasnmigrasi, Perguruan        Tinggi dan Pakar ditunjuk oleh Menteri.</p>
<p><strong>Pasal 5</strong></p>
<p>Permintaan nama calon anggota        dari instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), huruf b sampai        dengan huruf h disampaikan oleh Menteri kepada Pimpinan Departemen atau        Kementrian atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Bagian Kedua</strong></p>
<p>Unsur Organisasi        Pengusaha</p>
<p><strong>Pasal 6</strong></p>
<p>Permintaan nama calon anggota        dari organisasi pengusaha sebagimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2),        disampaikan oleh Menteri kepada Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi        Pengusaha Indonesia        (DPN APINDO).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Bagian Ketiga</strong></p>
<p>Unsur Serikat        Pekerja/Serikat Buruh</p>
<p>Pasal 7</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="6%" valign="top">(1)</td>
<td width="94%" valign="top">
<p style="text-align: justify;">Permintaan      nama calon anggota dari unsur serikat pekerja/serikat buruh disampaikan      oleh Menteri kepada serikat pekerja/serikat buruh yang berhak duduk di      Dewan Pengupahan Nasional.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">(2)</td>
<td valign="top">
<p style="text-align: justify;">Penentuan      serikat pekerja/serikat buruh yang berhak duduk di Dewan Pengupahan      Nasional sebagaimana dimakdwsud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan      ketentuan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor      KEP.16/MEN/2001 tentang Tata Cara Pencatatan Serikat Pekerja/Serikat Buruh      dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP. 201/MEN/2001      tentang Keterwakilan Dalam Kelembagaan Hubungan Industrial.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">
<p align="center">
<p style="text-align: center;"><strong>BAB IV</strong></p>
<p style="text-align: center;">SUSUNAN KEANGGOTAAN</p>
<p style="text-align: center;">Pasal 8</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Susunan keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional yang diusulkan oleh      Menteri kepada Presiden:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">a.</td>
<td valign="top">
<p style="text-align: justify;">Direktur      Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan      Transmigrasi sebagai Ketua merangkap anggota;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">b.</td>
<td valign="top">
<p style="text-align: justify;">satu orang wakil dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sebagai wakil      ketua merangkap anggota;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">c.</td>
<td valign="top">
<p style="text-align: justify;">satu orang wakil dari Serikat Pekerja/Serikat Buruh sebagai wakil      ketua merangkap anggota;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">d.</td>
<td valign="top">
<p style="text-align: justify;">Direktur Pengupahan, Jaminan Sosial dan Kesejahteraan Departemen      Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai sekretaris merangkap anggota ;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">e.</td>
<td valign="top">anggota.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">
<p align="center">
<p style="text-align: center;"><strong>Pasal 9</strong></p>
<p style="text-align: center;">Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal      ditetapkan.</p>
<p style="text-align: center;">Ditetapkan di      Jakarta</p>
<p style="text-align: center;">pada tanggal 31-1-2005</p>
<p style="text-align: center;"><strong>MENTERI</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><strong>TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI</strong></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><strong>REPUBLIK INDONESIA,</strong></strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">FAHMI IDRIS</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/kep-226men2000-perubahan-pasal-1-pasal-3-pasal-4-pasal-8-pasal11-pasal20-dan-pasal-21-peraturan-menteri-tenaga-kerja-nomor-per-01men1999-tentang-upah-minimum" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP-226/MEN/2000 &#8211; PERUBAHAN PASAL 1,  PASAL 3, PASAL 4, PASAL 8, PASAL,11, PASAL20, DAN PASAL 21 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA &#8211; NOMOR PER-01/MEN/1999 TENTANG UPAH MINIMUM</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep101menvi2004-tentang-tata-cara-perijinan-perusahaan-penyedia-jasa-pekerjaburuh" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP.101/MEN/VI/2004 &#8211; Tentang TATA CARA PERIJINAN PERUSAHAAN PENYEDIA JASA PEKERJA/BURUH</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-48men2004-tata-cara-pembuatan-dan-pengesahan-peraturan-perusahaan-serta-pembuatan-dan-pendaftaran-perjanjian-kerja-bersama" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 48/MEN/2004 &#8211; TATA CARA PEMBUATAN DAN  PENGESAHAN  PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN  PERJANJIAN KERJA BERSAMA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-227men2003-tata-cara-penetapan-standard-kompetensi-kerja-nasional-indonesia" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-255men2003-tata-cara-pembentukan-dan-susunan-keanggotaan-lembaga-kerjasama-bipartit" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 255/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN  LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-225men2003-organisasi-dan-tata-kerja-lembaga-akreditasi-lembaga-pelatihan-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 225/MEN/2003 &#8211; ORGANISASI DAN TATA KERJA  LEMBAGA AKREDITASI LEMBAGA PELATIHAN KERJA</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=939&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-255men2003-tata-cara-pembentukan-dan-susunan-keanggotaan-lembaga-kerjasama-bipartit' rel='bookmark' title='KEP. 255/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN  LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT'>KEP. 255/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN  LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-227men2003-tata-cara-penetapan-standard-kompetensi-kerja-nasional-indonesia' rel='bookmark' title='KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA'>KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-231men2003-tata-cara-penangguhan-pelaksanaan-upah-minimum' rel='bookmark' title='KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM'>KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/per-03meni2005-tata-cara-pengusulan-keanggotaan-dewan-pengupahan-nasional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PER-04/MEN/1994 &#8211; TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN BAGI PEKERJA DI PERUSAHAAN</title>
		<link>http://indosdm.com/per-04men1994-tunjangan-hari-raya-keagamaan-bagi-pekerja-di-perusahaan</link>
		<comments>http://indosdm.com/per-04men1994-tunjangan-hari-raya-keagamaan-bagi-pekerja-di-perusahaan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 20:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[PER-04/MEN/1994]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan menteri]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA]]></category>
		<category><![CDATA[PERLINDUNGAN UPAH]]></category>
		<category><![CDATA[Permen]]></category>
		<category><![CDATA[THR]]></category>
		<category><![CDATA[Tunjangan Hari Raya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN  MENTERI TENGA KERJA R.I NO.PER-04/MEN/1994 TENTANG TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN BAGI PEKERJA DI PERUSAHAAN 
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-51men2004-tentang-istirahat-panjang-pada-perusahaan-tertentu' rel='bookmark' title='KEP. 51/MEN/2004 &#8211;  Tentang ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU'>KEP. 51/MEN/2004 &#8211;  Tentang ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep101menvi2004-tentang-tata-cara-perijinan-perusahaan-penyedia-jasa-pekerjaburuh' rel='bookmark' title='KEP.101/MEN/VI/2004 &#8211; Tentang TATA CARA PERIJINAN PERUSAHAAN PENYEDIA JASA PEKERJA/BURUH'>KEP.101/MEN/VI/2004 &#8211; Tentang TATA CARA PERIJINAN PERUSAHAAN PENYEDIA JASA PEKERJA/BURUH</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-224men2003-kewajiban-pengusaha-yang-mempekerjakan-pekerjaburuh-perempuan-antara-pukul-2300-sampai-dengan-0700' rel='bookmark' title='KEP. 224/MEN/2003 &#8211;  KEWAJIBAN PENGUSAHA  YANG MEMPEKERJAKAN PEKERJA/BURUH PEREMPUAN  ANTARA PUKUL 23.00 SAMPAI DENGAN 07.00'>KEP. 224/MEN/2003 &#8211;  KEWAJIBAN PENGUSAHA  YANG MEMPEKERJAKAN PEKERJA/BURUH PEREMPUAN  ANTARA PUKUL 23.00 SAMPAI DENGAN 07.00</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA</p>
<p align="center">
<p align="center">PERATURAN  MENTERI TENGA KERJA R.I</p>
<p align="center">
<p align="center">NO.PER-04/MEN/1994</p>
<p align="center">
<p align="center">TENTANG</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN BAGI PEKERJA DI PERUSAHAAN</strong></p>
<p align="center">
<p align="center">MENTERI TENAGA KERJA R.I.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menimbang:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">a.       bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakatpemeluk agama yang setiap tahunnya merayakan, hariraya keagamaan sesuai dengan agamanya&#8217;masing-masing;</p>
<p style="text-align: justify;">b.       bahwa basi pekerja untuk merayakan hari tersebut memerlukan biaya tambahan;</p>
<p style="text-align: justify;">c.       bahwa untuk merayakan hari Raya tersebut sudah sewajarnya pengusaha memberikan Tunjangan Hari RayaKeagamaan ;</p>
<p style="text-align: justify;">d.       bahwa untuk menciptakan ketenangan usaha, meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keseragaman mengenaipemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan perluditetapkan dengan Peraturan Menteri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengingat:</strong></p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li>Undang-Undang No.3 tahun 1951 tentang Pernyataan      berlakunya Undang-Undang Pengawasan Perburuhan tahun 1948 Nomor 23 dari      Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara tahun-1951      Nomor 4).</li>
<li>Undang-Undang Nomor 14 tahun 1969 tentang      Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja(Lembaran Negara tahun 1969      No.55,Tambahan Lembaran Negara No.2912).</li>
<li style="text-align: justify;">Keputusan PresideD RI No, 96/M tahun 1993 tentang      Pembentukan Kabinet pembangunan VI.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">M E M U T U S K A N:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menetapkan :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA TENTANG TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN BAGIPEKERJA DI PERUSAHAAN.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 1</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Peraturun Menteri ini yang dimaksud dengan:</p>
<p style="text-align: justify;">a.       Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menpekerjakan pekerja dengan tujuan mencari keuntungan atau tidak baik milik swasta maupun milik Pemerintah</p>
<p style="text-align: justify;">b.      Pengusaha adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li>Orang, Persekutuan atau Badan Hukum yang menjalankan      suatu perusahaan milik sendiri</li>
<li>Orang, persekutuan atau badan hukum yang secara      berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;</li>
<li>Orang, persekutuan atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana      dimaksud pada angka 1 dan angka 2, yang berkedudukan di luar Indonesia.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">c.       Pekerja adalah tenaga kerja yang bekerja pada Pengusaha_dengan menerima upah.</p>
<p style="text-align: justify;">d.      Tunjangan Hari Raya Kee.gamaan yang selanjutnya disebut THR, adalahpendapatan pekerja yang wajib dibayarkan oleh Pengusaha kepadapekerja atau keluarganya menjelang Hari Raya Keagamaan yang berupauang atau bentuk lain.</p>
<p style="text-align: justify;">e.       Hari Raya Keagamaan adalah Hari Raya redul Fitri bagi pekerja yangberagama Islam, Hari Raya Natal bagi pekerja yang beragama Kristen Katholik dan Protestan, Hari Raya Nyepi bagi pekerja yang beragama Hindu dan Hari Raya Waisak bagi pekerja yang beragama Budha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 2</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1.      Pengusaha wajib memberikan T H R kepada pekerja yang telah mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus menerus atau lebih.</p>
<p style="text-align: justify;">2.      T H R sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diberikan satu kali dalam satu tahun.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 3</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1.      Besarnya THR sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 ditetapkan  sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">a.       pekerja yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih sebesar 1(satu) bulan upah.</p>
<p style="text-align: justify;">b.      Pekerja yang mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus menerustetapi kurang dari 12 bulan diberikan secra proporsional dengan masa kerja yakni dengan perhitungan masa kerja/12 x 1(satu) bulanupah .</p>
<p style="text-align: justify;">2.      Upah satu bulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah upah            pokok di tambah tunjangan-tunjangan tetap.</p>
<p style="text-align: justify;">3.      Dalam hal penetapan besarnya nilai THR menurut Kesepakatan Kerja(KK), atau Peraturan Perusahaan (PP) atau Kesepakatan Kerja Bersama(KKB) atau kebiasaan yang telah dilakukan lebih besar dari nilaiTHR sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) maka THR yang dibayarkankepada pekerja sesuai dengan Kesepakatan Kerja, Peraturan Perusahaan, Kesepakatan Kerja Bersama atau kebiasaan yang telah dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 4</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1        Pemberian THR sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (2)disesuaikan dengan Hari Raya Keagamaan, masing-masing pekerja kecuali kesepakatan pengusaha dan pekerja menentukan lain.</p>
<p style="text-align: justify;">2        Pembayaran THR sebagairnana dimaksud dalam ayat (1) wajibdibayarkan oleh pengusaha selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum Hari, Raya Keagamaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 5</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1.      Dengan persetujuan pekerja, THR sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 sebagian dapat diberikan dalam bentuk lain kecualiminuman keras, obat-obatan atau .bahan obat-obatan, dengan ketentuHn ni_ainya tidak boleh melebihi 25% (dua puluh lima persen) dari nilai THR yang seharusnya diterima.</p>
<p style="text-align: justify;">2.      Bentuk lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan bersamaan dengan pembayaran THR.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 6</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1.      Pekerja yang putus hubungan kerjanya terhitung sejak waktu 30(tiga puluh) hari sebelum jatuh tempo Hari Raya Keagamaanberhak alas THR.</p>
<p style="text-align: justify;">2.      Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak tidak berlaku bag pekerja daIam hubungan kerja untuk waktu tertentu yang hubungan kerjanya berakhir sebelum jatuh tempo Hari Raya Keagamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">3.      Dalam hal pekerja dipindahkan ke perusahaan lain dengan masakerja berlanjut, maka pekerja berhak atas THR pada perusahaan yang baru, apabila dari perusahaan yang lama, pekerja yangbersangkutan belum mendapatkan THR.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 7</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1.      Pengusaha yang karena kondisi perusahaannya tidak mampu membayar THR dapat mengajukan permohonan penyimpangan mengenai besarnya jumlah THR kepada Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">2.      Pengajuan permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) harusdiajukan paling lambat 2 bulan sebelum Hari Raya Keagamaan yang terdekat.</p>
<p style="text-align: justify;">3.      Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan menetapkan besarnya jumlah THR, setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan keuangan perusahaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 8</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1.      Bagi pengusaha yang melanggar ketentuan pasal 2 ayat (1)- dan pasal 4 ayat (2), diancam dengan hukuman sesuai denganketentuan pasal 17 Undang-Undang No.14 tahun 1969 tentangKetentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">2.      Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pe1anggaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 9</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1        Pengawasan untuk ditaatinya peraturan ini dilakukan oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan,</p>
<p style="text-align: justify;">2        Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, jugakepada Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan yang diberi wewenang  khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum acara Pidana (Lembaran Negara tahun 1981 Nomor 76, Tnmbahan lemmbaran Negara Nomor3209) untuk melakukan penyidikan tindak pidana pelanggaran dalam peraturan ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 10</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, maka Keputusan MenteriTenaga Kerja No.16 tahun 1968 tentang Tunjangan Hari Raya bagi Buruh Perusahaan Swasta dinyatakan tidak berlaku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 11</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditetapkan di Jakarta: 16 September 1994</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Menteri Tenaga Kerja R. I.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Drs. Abdul Latief</p>
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/team-building-games-hands-knot" rel="bookmark" class="wherego_title">Team Building Games: Hands Knot</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-67meniv2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP-67/MEN/IV/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-226men2000-perubahan-pasal-1-pasal-3-pasal-4-pasal-8-pasal11-pasal20-dan-pasal-21-peraturan-menteri-tenaga-kerja-nomor-per-01men1999-tentang-upah-minimum" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP-226/MEN/2000 &#8211; PERUBAHAN PASAL 1,  PASAL 3, PASAL 4, PASAL 8, PASAL,11, PASAL20, DAN PASAL 21 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA &#8211; NOMOR PER-01/MEN/1999 TENTANG UPAH MINIMUM</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-232men2003-akibat-hukum-mogok-kerja-yang-tidak-sah" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 232/MEN/2003 &#8211; AKIBAT HUKUM MOGOK KERJA YANG TIDAK SAH</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-231men2003-tata-cara-penangguhan-pelaksanaan-upah-minimum" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-51men2004-tentang-istirahat-panjang-pada-perusahaan-tertentu" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 51/MEN/2004 &#8211;  Tentang ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=922&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-51men2004-tentang-istirahat-panjang-pada-perusahaan-tertentu' rel='bookmark' title='KEP. 51/MEN/2004 &#8211;  Tentang ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU'>KEP. 51/MEN/2004 &#8211;  Tentang ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep101menvi2004-tentang-tata-cara-perijinan-perusahaan-penyedia-jasa-pekerjaburuh' rel='bookmark' title='KEP.101/MEN/VI/2004 &#8211; Tentang TATA CARA PERIJINAN PERUSAHAAN PENYEDIA JASA PEKERJA/BURUH'>KEP.101/MEN/VI/2004 &#8211; Tentang TATA CARA PERIJINAN PERUSAHAAN PENYEDIA JASA PEKERJA/BURUH</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-224men2003-kewajiban-pengusaha-yang-mempekerjakan-pekerjaburuh-perempuan-antara-pukul-2300-sampai-dengan-0700' rel='bookmark' title='KEP. 224/MEN/2003 &#8211;  KEWAJIBAN PENGUSAHA  YANG MEMPEKERJAKAN PEKERJA/BURUH PEREMPUAN  ANTARA PUKUL 23.00 SAMPAI DENGAN 07.00'>KEP. 224/MEN/2003 &#8211;  KEWAJIBAN PENGUSAHA  YANG MEMPEKERJAKAN PEKERJA/BURUH PEREMPUAN  ANTARA PUKUL 23.00 SAMPAI DENGAN 07.00</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/per-04men1994-tunjangan-hari-raya-keagamaan-bagi-pekerja-di-perusahaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEP-226/MEN/2000 &#8211; PERUBAHAN PASAL 1,  PASAL 3, PASAL 4, PASAL 8, PASAL,11, PASAL20, DAN PASAL 21 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA &#8211; NOMOR PER-01/MEN/1999 TENTANG UPAH MINIMUM</title>
		<link>http://indosdm.com/kep-226men2000-perubahan-pasal-1-pasal-3-pasal-4-pasal-8-pasal11-pasal20-dan-pasal-21-peraturan-menteri-tenaga-kerja-nomor-per-01men1999-tentang-upah-minimum</link>
		<comments>http://indosdm.com/kep-226men2000-perubahan-pasal-1-pasal-3-pasal-4-pasal-8-pasal11-pasal20-dan-pasal-21-peraturan-menteri-tenaga-kerja-nomor-per-01men1999-tentang-upah-minimum#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 09:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[Kep Men Tenaga Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[KEP-226/MEN/2000]]></category>
		<category><![CDATA[Kepmen Depnakertrans]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA]]></category>
		<category><![CDATA[Permen]]></category>
		<category><![CDATA[Upah Minimum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=909</guid>
		<description><![CDATA[KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN PASAL 1,  PASAL 3, PASAL 4, PASAL 8, PASAL,11, PASAL20, DAN PASAL 21 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR PER-01/MEN/1999 TENTANG UPAH MINIMUM 
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 64 TAHUN 2005 TENTANG...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/per-01men1999-upah-minimum' rel='bookmark' title='PER-01/MEN/1999: UPAH MINIMUM'>PER-01/MEN/1999: UPAH MINIMUM</a> <small>PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER-01/MEN/1999 Tentang UPAH MINIMUM...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">KEPUTUSAN MENTERI TENAGA   KERJA DAN TRANSMIGRASI</p>
<p align="center">REPUBLIK INDONESIA</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">NOMOR : KEP-226/MEN/2000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">TENTANG</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center"><strong>PERUBAHAN PASAL 1,  PASAL   3, PASAL 4, PASAL 8, PASAL,11, PASAL20, DAN PASAL 21 PERATURAN MENTERI TENAGA   KERJA </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center"><strong>NOMOR PER-01/MEN/1999 TENTANG UPAH MINIMUM</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">MENTERI TENAGA KERJA DAN   TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">
</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td>Menimbang   :</td>
<td></td>
<td>
<p align="center">a.</p>
</td>
<td>bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik   Indonesia No.25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Propinsi sebagai Daerah   Otonom,Propinsi berwenang menetapkan Upah Minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">b.</p>
</td>
<td>bahwa untuk memperlancar pelaksanaan kewenangan   tersebut pada huruf a, dipandang perlu melakukan perubahan beberapa pasal   Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per-01/MEN/1999 tentang Upah Minimum,untuk   digunakan sebagai pedoman dalam menetapkan Upah Minimum;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">c.</p>
</td>
<td>bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan   Menteri.</td>
</tr>
<tr>
<td>Mengingat   :</td>
<td></td>
<td>
<p align="center">1.</p>
</td>
<td>Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.25   Tahun 2000 tentang Kewenganan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai   Daerah Otonom;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">2.</p>
</td>
<td>Keputusan Presiden Republik Indonesia   No.234/M Tahun 2000;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">3.</p>
</td>
<td>Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per.01/Men/1999   tentang Upah Minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">M E M U T U S K A N</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>Menetapkan   :</td>
<td></td>
<td></td>
<td>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI   TENTANG PERUBAHAN PASAL 1, PASAL 3, PASAL 4, PASAL 8, PASAL 11, PASAL 20,DAN   PASAL 21,PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR PER-01/MEN/1999 TENTANG UPAH   MINIMUM.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 1</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Tenaga   Kerja No.Per 01/MEN/1999 tentang upah Minimum,diubah sebagai berikut :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">1.</p>
</td>
<td>Penulisan dan penyebutan istilah dalam Peraturan   Menteri Tenaga Kerja No.Per-01/MEN/1999 yaitu:</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Istilah &#8216;Upah Minimum Regional tingkat 1(UMR   Tk.1)&#8221; diubah menjadi &#8220;Upah Minimum Propinsi&#8221;. istilah   &#8220;Upah Minimum Regional Tingkat II(UMRTk.II)&#8221; diubah menjadi   &#8220;Upah Minimum Kabupaten/Kota.istilah &#8220;Upah Minimum Sektoral   Regional Tingkat 1(UMSR Tk.I)&#8221; diubah menjadi &#8220;Upah Minimum Sektoral   Propinsi (UMS Propinsi),dan istilah &#8220;Upah Minimum sektoral Regional   Tingkat II (UMSR Tk.II)&#8221;diubah menjadi &#8220;Upah Minimum Sektoral   Kabupaten/kota (UMS Kabupaten/Kota).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">2.</p>
</td>
<td>Ketentuan Pasal 1 angka 2,angka 3, angka 4 dan   angka 5, diubah sehingga selengkapnya berbunyi sebagai berikut :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 1</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">2.</p>
</td>
<td></td>
<td>Upah Minimum Propinsi adalah Upah Minimum yang   berlaku untuk seluruh Kabupaten/Kota di satu Propinsi.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">3.</p>
</td>
<td></td>
<td>Upah Minimum Kabupaten/Kota adalah Upah Minimum   yang berlaku di Daerah Kabupaten/Kota.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">4.</p>
</td>
<td></td>
<td>Upah Minimum Sektoral Propinsi (UMS Propinsi)   adalah Upah Minimum yang berlaku secara sektoral di seluruh Kabupaten/Kota di   satu Propinsi.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">5.</p>
</td>
<td></td>
<td>Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMS   Kabupaten/kota)adalah Upah Minimum yang berlaku secara Sektoral di Daerah   Kabupaten/Kota.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">3.</p>
</td>
<td>Ketentuan Pasal 3 diubah sehingga selengkapnya   berbunyi sebagai berikut :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 3</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Upah Minimum terdiri dari Upah Minimum   Propinsi,Upah Minimum Sektoral Propinsi (UMS Propinsi),Upah Minimum   Kabupaten/Kota dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota(UMS   Kabupaten/kota)&#8221;.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">4.</p>
</td>
<td>Ketentuan Pasal 4 diubah sehingga selengkapnya   berbunyi sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 4</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Gubernur menetapkan besarnya Upah Minimum   Propinsi atau Upah Minimum Kabupaten/Kota,sebagaimana dimaksud dalam pasal 3.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Gubernur dalam menetapkan Upah Minimum   Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 harus lebih besar dari Upah   Minimum Propinsi.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Selain Upah Minimum sebagaimana dimaksud dalam   ayat(1) Gubernur dapat menetapkan Upah MinimumSektoral Propinsi (UMS   Propinsi) atau Upah Kesepakatan organisasi perusahaan dengan serikat   pekerja/serikat buruh.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(4).</p>
</td>
<td></td>
<td>Ketetapan Upah Minimum Propinsi sebagaimana   dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan selambat-lambatnya 60(enam puluh) hari   sebelum tanggal berlakunya upah minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(5).</p>
</td>
<td></td>
<td>Ketetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota sebagaimana   dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan selambat-lambatnya 40(empat puluh ) hari   sebelum tanggal berlakunya upah minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(6).</p>
</td>
<td></td>
<td>Upah Minimum Propinsi dan Upah Minimum   Kabupaten/Kota tahun 2001,berlaku sejak tanggal 1 Januari tahun 2001.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(7).</p>
</td>
<td></td>
<td>Peninjauan terhadap besarnya Upah Minimum   Propinsi dan Upah Minimum Kabupaten/Kota diadakan 1(satu) tahun sekali&#8221;.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">5.</p>
</td>
<td>Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga selengkapnya   berbunyi sebagai berikut :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 8</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Gubernur dalam menetapkan Upah Minumum Propinsi   dan Upah Minimum Kabupaten/Kota berdasarkan usulan dari Komisi Penelitian   Pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan Ketenagakerjaan Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam merumuskan usulan sebagaimana dimaksud   dalam ayat (1) Komisi Penelitian Pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan   Ketenagakerjaan Daerah dapat berkonsultasi dengan pihak-pihak yang dipandang   perlu.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Usulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)   disampaikan oleh Komisi Penelitian Pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan   Ketenagakerjaan Daerah melalui Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga   Kerja/Pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di   Propinsi.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">6.</p>
</td>
<td>Ketentuan Pasal 9 dihapus.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">7.</p>
</td>
<td>Pasal 10 diubah menjadi Pasal 9.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">8.</p>
</td>
<td>Pasal 11 diubah menjadi Pasal 10 dan ketentuan   ayat (5) dihapus serta ketentuan ayat(4) diubah sehingga selengkapnya   berbunyi sebagai berikut:</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 10</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Hasil kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam   ayat(1) disampaikan kepada gubernur melalui Kepala Kantor Wilayah Departemen   tenaga Kerja/Instansi Pemerintah yang bertanggung jawab di bidang   ketenagakerjaan di Propinsi.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">9.</p>
</td>
<td>Pasal 12,Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16,   Pasal 17, Pasal 18 dan Pasal 19, diubah menjadi Pasal 11, Pasal 12,Pasal 13,   Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, dan Pasal 18.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">10.</p>
</td>
<td>Pasal 20 diubah menjadi Pasal 19 dan ketentuan   ayat(2) diubah sehingga selengkapnya berbunyi sebagai berikut :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">&#8221; Pasal 19</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Permohonan penangguhan pelaksanaan upah minimum   sebagaimana dimaksud ayat (1) diajukan kepada Gubernur melalui Kepala Kantor   Wilayah Departemen Tenaga Kerja/Instansi Pemerintah yang bertanggung jawab di   bidang ketenagakerjaan di Propinsi&#8221;.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">11</p>
</td>
<td>Pasal 21 diubah menjadi Pasal 20 dan ketentuan   ayat (5) dihapus serta ketentuan ayat (2),ayat(4),dan ayat(6) diubah menjadi   ayat (2),ayat (4),dan ayat(5) sehingga selengkapnya berbunyi sebagai berikut   :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 20</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam   ayat (1),Gubernur dapat meminta Akuntan Publik untuk memeriksa keadaan   keuangan guna pembuktian ketidak mampuan perusahaan tersebut atas biaya   perusahaan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(4).</p>
</td>
<td></td>
<td>Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam   ayat (1) ,Gubernur menetapkan penolakan atau persetujuan penangguhan   pelaksanaan upah minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(5).</p>
</td>
<td></td>
<td>Persetujuan Penangguhan sebagaimana dimaksud   dalam ayat (1),Gubernur berlaku untuk waktu paling lama 1 tahun&#8221;.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">12.</p>
</td>
<td>Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25 diubah   menjadi Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">13.</p>
</td>
<td>Sesudah Pasal 24 ditambah Pasal baru yaitu 25   yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 25</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Bab II, Bab IV, dan Bab V, Peraturan Menteri   Tenaga Kerja No.Per 01/MEN/1999 tentang Upah Minimum,serta Keputusan Menteri   ini digunakan sebagai pedoman dalam menetapkan upah minimum&#8221;.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal II</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Keputusan ini mulai   berlaku sejak tanggal ditetepkan.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Ditetapkan di : J A K A R   T A</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pada tanggal : 5 Oktober   2000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">MENTRI</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">TENAGA KERJA DAN   TRANSMIGRASI</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">REPUBLIK INDONESIA</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">ttd</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">ALHILAL HAMDI</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/bias-penilaian-kinerja" rel="bookmark" class="wherego_title">BIAS PENILAIAN KINERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep101menvi2004-tentang-tata-cara-perijinan-perusahaan-penyedia-jasa-pekerjaburuh" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP.101/MEN/VI/2004 &#8211; Tentang TATA CARA PERIJINAN PERUSAHAAN PENYEDIA JASA PEKERJA/BURUH</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-49men2004-ketentuan-struktur-dan-skala-upah" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 49/MEN/2004 &#8211; KETENTUAN STRUKTUR DAN SKALA UPAH</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-8-tahun-1981-perlindungan-upah" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH NOMOR  8 TAHUN 1981 &#8211; PERLINDUNGAN UPAH</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=909&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 64 TAHUN 2005 TENTANG...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/per-01men1999-upah-minimum' rel='bookmark' title='PER-01/MEN/1999: UPAH MINIMUM'>PER-01/MEN/1999: UPAH MINIMUM</a> <small>PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER-01/MEN/1999 Tentang UPAH MINIMUM...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/kep-226men2000-perubahan-pasal-1-pasal-3-pasal-4-pasal-8-pasal11-pasal20-dan-pasal-21-peraturan-menteri-tenaga-kerja-nomor-per-01men1999-tentang-upah-minimum/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PER-01/MEN/1999: UPAH MINIMUM</title>
		<link>http://indosdm.com/per-01men1999-upah-minimum</link>
		<comments>http://indosdm.com/per-01men1999-upah-minimum#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 09:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan menteri]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA]]></category>
		<category><![CDATA[PERLINDUNGAN UPAH]]></category>
		<category><![CDATA[Permen]]></category>
		<category><![CDATA[Upah Minimum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER-01/MEN/1999 Tentang UPAH MINIMUM
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-231men2003-tata-cara-penangguhan-pelaksanaan-upah-minimum' rel='bookmark' title='KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM'>KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-49men2004-ketentuan-struktur-dan-skala-upah' rel='bookmark' title='KEP. 49/MEN/2004 &#8211; KETENTUAN STRUKTUR DAN SKALA UPAH'>KEP. 49/MEN/2004 &#8211; KETENTUAN STRUKTUR DAN SKALA UPAH</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-232men2003-akibat-hukum-mogok-kerja-yang-tidak-sah' rel='bookmark' title='KEP. 232/MEN/2003 &#8211; AKIBAT HUKUM MOGOK KERJA YANG TIDAK SAH'>KEP. 232/MEN/2003 &#8211; AKIBAT HUKUM MOGOK KERJA YANG TIDAK SAH</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="text-align: justify;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td colspan="4" valign="top">
<p align="center"><strong>PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA</strong></p>
<p align="center"><strong>NOMOR : PER-01/</strong><strong><strong>MEN</strong>/</strong><strong>1999</strong></p>
<p align="center"><strong>Tentang</strong></p>
<p align="center"><strong>UPAH MINIMUM</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Menimbang</td>
<td valign="top">
<p align="center">a.</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">bahwa dalam rangka upaya mewujudkan penghasilan yang layak bagi   pekerja,perlu ditetapkan upah minimum dengan mempertimbangkan peningkatan   kesejahteraan pekerja tanpa mengabaikan peningkatan produktivitas dan   kemajuan perusahaan serta perkembangan perekonomian pada umumnya;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">b.</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">bahwa untuk mewujudkan penetapan upah minimum yang lebih realistis   sesuai dengan kemampuan perusahaan secara sektoral,maka disamping penetapan   Upah Minimum Regioanal juga dilakukan penetapan Upah Minimum Sektoral   Regional;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">c.</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">bahwa sehunngan dengan huruf a dan b,Peraturan Menteri Tenaga   Kerja No. Per-03/MEN/1997 tentang Upah   Minimum Regional, dipandang sudah tidak sesuai lagi,sehingga perlu diadakan   penyempurnaan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">d.</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Bahwa untuk itu,perlu ditetapkan dengan Peraturan Menteri.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Mengingat</td>
<td valign="top">
<p align="center">1</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Kitab Undang-undang Hukum Perdata Buku III Titel 7A pasal 1601.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">2</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Undang-undang No. 1 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya   Undang-undang Kerja Tahun 1946 No.12 dari Republik Indonesia untuk seluruh   Indonesia (Lembaran Negara No.2 Tahun 1951).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">3</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Undang-undang Nomor 3 tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya   Undang-undang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari republik   Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Republik Tahun 1951 Nomor   4 ).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">4</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Undang-undang Nomor 80 Tahun 1957 tentang Pengupahan yang sama   bagi buruh laki-laki dan wanita untuk pekerjaan yang sama nilainya (Lembaran   Negara Nomor 171 Tahun 1957 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 2153).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">5</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Undang-undang Nomor 3 Tahun 1961 tentang Ratifikasi Konvensi ILO   No.106 tentang Istirahat Mingguan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">6</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Undang-undang No.14 tahun 1969 tentang ketentuan-ketentuan pokok   mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 55,Tambahan Lembaran   Negara Nomor 2912).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">7</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Undang-undang Nomor 5 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan di   Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38,Tambahan Lembaran Negara Nomor   3037).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Undang-undang Nomor 7 tahun 1981 tentang Wajib lapor   Ketenagakerjaan di Perusahaan (Lembaran Negara tahun 1981 Nomor 39,Tambahan   Lembaran Negara Nomor 3201).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">9</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan   Upah (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Nomor   3190).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">10</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Keputusan Presiden Nomor 58 Tahun 1969 tentang Pembentukan Dewan   Penelitian Pengupahan Nasional.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">11</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Keputusan Presiden RI No. 122/M/Tahun 1995 tentang Kabinet   Reformasi Pembangunan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per-06/MEN/1985 tentang Perlindungan Pekerja Harian   Lepas.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">13</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Peraturan Menteri Tenaga Kerja No Per-02/MEN/1993 tentang Kesepakatan Kerja Waktu   Tertentu.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">14</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per-06/MEN/1993 tentang Waktu Kerja 5(lima) Hari Seminggu   8(delapan)Jam Sehari.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">15</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per.05/MEN/1998 tentang Pendaftaran Organisasi   Pekerja.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Memperhatikan</td>
<td valign="top"></td>
<td colspan="2" valign="top">Surat Dewan Penelitian Pengupahan Nasional No.42/DPPN/1999   tanggal 11 Januari 1999 perihal Saran dan Pertimbangan Penetapan Upah Minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" valign="top">
<p align="center">M E M U T U S   K A N :</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Menetapkan</td>
<td colspan="2" valign="top">PERATURAN MENTERI T E N A G A K E R J A TENTANG UPAH MINIMUM</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">BAB I</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">PENGERTIAN</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">PASAL 1</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">1</p>
</td>
<td valign="top">Upah Minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah   pokok termasuk tunjangan tetap.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">2</p>
</td>
<td valign="top">Upah Minimum Regional Tingkat 1 untuk selanjutnya disebut UMR   Tk.1 adalah upah minimum yang berlaku di satu propinsi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">3</p>
</td>
<td valign="top">Upah Minimum Regional Tingkat II untuk selanjutnya disebut UMR   Tk.II adalah upah minimum yang berlaku di daerah Kabupaten/Kotamadya atau   menurut wilayah pembangunan ekonomi daerah atau karena kekhususan wilayah   tertentu.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">4</p>
</td>
<td valign="top">Upah Minimum Sektoral Regional Tingkat II untuk selanjutnya   disebut UMSR Tk.I adalah upah minimum yang berlaku secara sektoral di satu   propinsi.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">5</p>
</td>
<td valign="top">Upah Minimum Sektoral Regional Tingkat II untuk selanjutnya   disebut UMSR Tk.II adalah upah minimum yang berlaku secara sektoral di daerah   Kabupaten/Kotamadya atau menurut wilayah pembangunan ekonomi daerah atau   karena kekhususan wilayah tertentu.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">6</p>
</td>
<td valign="top">Sektoral adalah kelompok lapangan usaha beserta pembagiannya   menurut klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top">Pekerja adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja   para pengusaha dengan menerima upah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
<td valign="top">Pengusaha adalah :</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">a</p>
</td>
<td valign="top">Orang perseorangan,persekutuan,atau badan hukum yang menjalankan   suatu perusahaan milik sendiri;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">b</p>
</td>
<td valign="top">Orang perseorangan,persekutuan,atau badan hukum yang secara   berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">c.</p>
</td>
<td valign="top">Orang perseorangan,persekutuan,atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagai dimaksud   dalam huruf (a)dan(b) yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">9</p>
</td>
<td valign="top">Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau   tidak yang mempekerjakan pekerja dengan tujuan mencari keuntungan atau tidak   milik orang perseorangan,persekutuan atau badan hukum,baik milik swasta   maupun milik negara.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">10</p>
</td>
<td valign="top">Serikat pekerja adalah organisasi pekerja atas dasar lapangan   pekerjaan yang bersifat mandiri,demokratis,bebas,dan tanggung jawab yang di   bentuk dari,oleh dan untuk pekerja,untuk memperjuangkan hak dan kepentingan   kaum pekerja dan keluarganya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">11</p>
</td>
<td valign="top">Peraturan Perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara   tertulis oleh pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja serta tata tertib   perusahaan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td valign="top">Kesepakatan Kerja Bersama adalah kesepakatan hasil perundingan   yang di selenggarakan oleh serikat pekerja atau gabungan serikat pekerja   dengan pengusaha atau gabungan pengusaha yang memuat syarat-syarat   kerja,untuk mengatur dan melindungi hak dan kewajiban kedua belah pihak.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">13</p>
</td>
<td valign="top">Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian kerja antara pekerja   dan pengusaha secara lisan dan/atau tertulis,baik,untuk waktu tertentu maupun   untuk waktu yang tidak tertentu yang memuat syarat-syarat kerja,hak dan   kewajiban para pihak.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">14</p>
</td>
<td valign="top">Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dibidang   ketenagakerjaan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 2</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Usaha sosial dan usaha-usaha lain yang berbentuk perusahaan   diperlakukan sama dengan perusahaan apabila mempunyai pengurus dan   mempekerjakan orang lain sebagaimana layaknya perusahaan mempekerjakan   pekerja.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 3</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Upah Minimum terdiri dari UMR Tk.1,UMR Tk.II, UMSR,Tk.1 dan UMSR   Tk.II.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">BAB II</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">DASAR DAN WEWENANG PENETAPAN UPAH MINIMUM</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 4</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td valign="top">Menteri menetapkan besarnya upah minimum sebagaimana dimaksud   dalam pasal 3.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td valign="top">Dalam satu propinsi ditetapkan UMR Tk.1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td valign="top">Selain UMR Tk. 1 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat   ditetapkan UMR Tk.II danatau UMSR Tk.II.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(4).</p>
</td>
<td valign="top">Dalam hal di seluruh daerah Kabupaten/Kotamadya dalam satu   propinsi sudah ada penetapan UMR Tk.II ,ketentuan sebagaimana dimaksud pada   ayat (2),tidak berlaku.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(5).</p>
</td>
<td valign="top">Besarnya upah Minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)   diadakan peninjauan selambat-lambatnya 2(dua) tahun sekali.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(6).</p>
</td>
<td valign="top">Ketetapan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan   selambat-lambatnya 40(empat puluh) hari sebelum tanggal berlakunya Upah   Minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 5</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Upah Minimum sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) ditetapkan:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">a.</p>
</td>
<td valign="top">UMSR Tk.1 harus lebih besar sekurang-kurangnya 5%(lima persen) dari UMR   Tk.1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">b.</p>
</td>
<td valign="top">UMSR TK.II harus lebih besar sekurang-kurangnya 5%(lima persen) dari UMR   Tk.II.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 6</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">(1).</td>
<td valign="top">UMR Tk.1 dan UMR Tk.II ditetapkan dengan mempertimbangkan :</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">a.</p>
</td>
<td valign="top">kebutuhan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">b.</p>
</td>
<td valign="top">indeks harga konsumen(IHK);</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">c.</p>
</td>
<td valign="top">kemampuan,perkembangan dan kelangsungan perusahaan;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">d.</p>
</td>
<td valign="top">upah pada umumnya yang berlaku di daerah tertentu dan antar   daerah ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">e.</p>
</td>
<td valign="top">kondisi pasar kerja;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">f.</p>
</td>
<td valign="top">tingkat perkembangan perekonomian dan pendapatan per kapita.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">(2)</td>
<td valign="top">UMSR Tk.1 dan UMSR Tk.II ditetapkan berdasarkan pertimbangan   sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan mempertimbangkan kemampuan perusahaan   secara sektoral.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 7</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td valign="top">Upah Minimum wajib dibayar dengan upah bulanan kepada pekerja</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(2)</p>
</td>
<td valign="top">Berdasarkan kesepakatan antara pekerja/serikat pekerja dengan   pengusaha upah dapat dibayarkan mingguan atau 2 mingguan dengan ketentuan   perhitungan upah didasarkan pada upah bulanan .</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">BAB III</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">TATA CARA   PENETAPAN UPAH MINIMUM</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Bagian Kesatu</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Upah Minimum   Regional</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 8</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Usulan penetapan UMR Tk.1 dan UMR Tk.II dirumusakan oleh Komisi   Penelitian Pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan Ketenagakerjaan Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Dalam merumuskan usulan.Komisi Penelitian Pengupahan dan Jaminan   Sosial Dewan Ketenagakerjaan Daerah dapat berkonsultasi dengan organisasi   pengusaha,serikat pekerja dan instansi terkait ditingkat daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada   Menteri melalui Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setelah memperoleh   rekomendasi persetujuan Gubernur Kepala Daerah tingkat 1.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(4).</p>
</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Dalam hal Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 menolak memberikan   rekomendasi persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) usulan tersebut   dikembalikan kepada Komisi Penelitian Pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan   Ketenagakerjaan Daerah disertai alasan penolakan untuk dikaji dan diusulkan   kembali.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(5).</p>
</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Berdasarkan usulan sebagaimana pada ayat (3),Menteri menetapkan   upah minimum setelah mendengar saran dan pertimbangan Dewan Penelitian   Pengupahan Nasional.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(6).</p>
</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Dalam memberikan saran dan pertimbangan,Dewan Penelitian   Pengupahan Nasional dapat berkonsultasi dengan organisasi pengusaha,serikat   pekerja dan instansi terkait ditingkat nasional.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 9</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Menteri dapat menetapkan UMR Tk.I atau UMR Tk.II berbeda dari   usulan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 3 setelah mendengarkan saran   dan pertimbangan Dewan Penelitian Pengupahan Nasional.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Bagian Kedua</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Upah Minimum   Sektoral Regional</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">Pasal 10</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Untuk menetapkan UMSR Tk.I dan atau UMSR Tk.II,Komisi Penelitian   Pengupahan dan jaminan Sosial Dewan Ketenagakerjaan Daerah,mengadakan   penelitian serta menghimpun data dan informasi mengenai:</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(a).</p>
</td>
<td valign="top">homogeneitas perusahaan;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(b).</p>
</td>
<td valign="top">jumlah perusahaan;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(c).</p>
</td>
<td valign="top">jumlah tenaga kerja;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(d).</p>
</td>
<td valign="top">devisa yang dihasilkan;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(e).</p>
</td>
<td valign="top">nilai tambah yang dihasilkan;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(f).</p>
</td>
<td valign="top">kemampuan perusahaan;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(g).</p>
</td>
<td valign="top">asosiasi perusahaan;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(h).</p>
</td>
<td valign="top">seikat pekerja terkait;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Komisi Penelitian Pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan   Ketenagakerjaan Daerah menentukan sector dan sub sector unggulan yang   selanjutnya disampaikan kepada masing-masing asosiasi perusahaan dan serikat   pekerja.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 11</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Usulan penetapan UMSR Tk.I dan UMSR Tk.II dirundingkan dan   disepakati oleh asosiasi perusahaan dan serikat pekerja.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam hal sektor atau sub sektor belum mempunyai asosiasi   perusahaan di sektor atau sub sektor yang bersangkutan bersama APINDO dengan   serikat pekerja terkait.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam hal sektor atau sub sektor belum mempunyai asosiasi   perusahaan dan serikat pekerja,perundingan dan kesepakatan UMSR Tk.I dan atau   UMSR Tk.II dilakukan oleh APINDO dengan gabungan serikat pekerja yang terkait   dengan sektor atau sub sektor.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(4).</p>
</td>
<td></td>
<td>Hasil kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),(2) dan   (3)dimintakan rekomendasi kepada Gubernur melalui Komisi Penelitian   pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan Ketenagakerjaan Daerah.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(5).</p>
</td>
<td></td>
<td>Kesepakatan yang telah memperoleh rekomendasi sebagaimana   dimaksud pada ayat (4) , disampaikan kepada Menteri melalui Kantor Wilayah   Departemen Tenaga Kerja setempat untuk penetapan UMSR Tk.I dan atau UMSR   Tk.II .</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 12</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Asosiasi perusahaan dan serikat pekerja di luar sektor atau sub   sektor yang telah ditentukan oleh Komisi dapat mengajukan usulan penetapan   UMSR Tk.I atau UMSR Tk.II.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">BAB IV</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">PELAKSANAAN   KETETAPAN UPAH MINIMUM</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 13</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Perusahaan dilarang membayar upah lebih rendah dari UMR Tk.I   atau UMR Tk.II atau UMSR Tk.I atau UMSR Tk.II.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam hal di daerah sudah ada penetapan UMR Tk.II perusahaan   dilarang membayar upah lebih rendah dari UMR Tk.II.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam hal di suatu sektor uasaha telah ada penetapan UMSR Tk. II   dan atau UMSR Tk.II perusahaan dilarang membayar upah lebih rendah dari UMSR   Tk.I atau UMSR Tk.II tersebut.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 14</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Bagi pekerja yang berstatus tetap, tidak tetap dan dalam masa   percobaan,upah diberikan oleh pengusaha serendah-rendahnya sebesar upah   minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Upah minimum hanya berlaku bagi pekerja yang mempunyai masa   kerja kurang dari 1(satun) tatun.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Peninjauan besarnya upah pekerja dengan masa kerja lebih dari   1(satu) tahun,dilakukan atas kesepakatan tertulis antara pekerja/serikat   pekerja dengan pengusaha.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 15</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Bagi pekerja dengan sistim kerja borongan atau berdasarkan   satuan hasil yang dilaksanakan 1 (satu) bulan atau lebih,upah rata-rata   sebulan serendah-rendahnya sebesar Upah Minimum di perusahaan yang   bersangkutan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Upah pekerja harian lepas,ditetapkan secara upah bulanan yang   dibayarkan berdasarkan jumlah hari kehadiran dengan perhitungan upah sehari:</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">a.</p>
</td>
<td>bagi perusahaan dengan sistim waktu kerja 6(enam) hari dalam seminggu,upah   bulanan dibagi 25(dua puluh lima).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">b.</p>
</td>
<td>bagi perusahaan dengan sistim waktu kerja 5(lima) hari dalam seminggu,upah bulanan   dibagi 21 (dua puluh satu ).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 16</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Bagi perusahaan yang mencakup lebih dari satu sektor atau sub   sektor,maka upah yang di berlakukan sesuai dengan UMSR Tk.I atau UMSR Tk.II.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam hal satu perusahan mencakup beberapa saktor atau sub   sektor yang satu lebih belum ada penetapan UMSR Tk.I dan atau UMSR Tk.II   untuk sektor tersebut diberlakukan UMSR Tk.I atau UMSR Tk.II tertinggi   diperusahaan yang bersangkutan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam hal perusahaan untuk menjalankan usahanya memerlukan   pekerjaan jasa penunjang yang belum terdapat penetapan UMSR Tk.I atau UMSR   Tk.II tertinggi di perusahaan yang bersangkutan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 17</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Bagi perusahaan yang telah memberikan upah lebih tinggi dari   upah minimum yang berlaku,pengusaha dilarang mengurangi atau menurunkan upah.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 18</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Peninjauan   besarnya upah bagi pekerja yang telah menerima upah lebih tinggi dari upah   minimum yang berlaku,dilakukan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam   Perjanjian Kerja .Peraturan Perusahaan,atau Kesepakatan Kerja Bersama.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 19</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dengan kenaikan upah minimum,para pekerja harus memelihara   prestasi kerja sehingga tidak lebih rendah dari prestasi kerja sehingga tidak   lebih rendah dari prestasi kerja sebelum kenaikan upah.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Ukuran prestasi kerja untuk masing-masing perusahaan dirumuskan   bersama oleh pengusaha dan pekerja atau Lembaga Kerjasama Bipartit perusahaan   yang bersangkutan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam hal tingkat prestasi kerja tidak sesuai sebagaimana   dimaksud pada ayat (2),pengusaha dapat mengambil tindakan kepada pekerja yang   bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,Perjanjian   Kerja,Peraturan Perusahaan,atau Kesepakatan Kerja Bersama.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">BAB V</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">TATA CARA   PENANGGUHAN</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 20</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Pengusaha yang tidak mampu melaksanakan ketentuan sebagaimana   dimaksud dalam pasal 4,dapat mengajukan penangguhan pelaksanaan upah minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Permohonan penangguhan pelaksanaan upah minimum   sebagaimanadimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Menteri atau Pejabat yang   ditunjuk.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 21</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Permohonan penangguhan sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat   (1) didasarkan atas kesepakatan tertulis antara serikat pekerja yang   terdaftar pada Departemen Tenaga Kerja dan didukung oleh mayoritas pekerja di   perusahaan yang bersangkutan dengan pengusaha,atau kesepakatan antara   pengusaha dengan pekerja yang mewakili lebih dari 50% pekerja penerima upah   minimum bagi perusahaan yang belum ada serikat pekerja,disertai dengan:</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">a.</p>
</td>
<td>salinan kesepakatan bersama;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">b.</p>
</td>
<td>salinan akte pendirian perusahaan;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">c.</p>
</td>
<td>laporan keuangan perusahaan yang terdiri dari neraca,perhitungan   rugi/laba beserta penjelasan-penjelasan untuk 2(dua) tahun terakhir;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">d.</p>
</td>
<td>perkembangan produksi dan pemasaran selama 2(dua) tahun   terakhir;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">e.</p>
</td>
<td>data upah menurut jabatan pekerja;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">f.</p>
</td>
<td>jumlah pekerja seluruhnya dan jumlah pekerja yang dimohonkan   penangguhan pelaksanaan upah minimum;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">g.</p>
</td>
<td>surat pernyataan   kesediaan perusahaan untuk melaksanakan upah minimum yang baru setelah   berakhirnya waktu penangguhan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat 91 Menteri   atau Pejabat yang ditunjuk,dapat meminta Akuntan Publik untuk memeriksa   keadaan keuangan guna pembuktian ketidak mampuan perusahaan tersebut atas   biaya perusahan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b,huruf c dan   ayat 2 tidak diwajibkan bagi perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja   sampai dengan 100(seratus) orang.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(4).</p>
</td>
<td></td>
<td>Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat   (1),Menteri atau Pejabat yang ditunjuk menetapkan penolakkan atau persetujuan   penangguhan pelaksanaan upah minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(5).</p>
</td>
<td></td>
<td>Pejabat yang ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat 2   adalah:</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">a.</p>
</td>
<td>Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan   Pengawasan Ketenagakerjaan untuk perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja   500 (lima   ratus) orang atau lebih.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">b.</p>
</td>
<td>Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setempat untuk   perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja 101 (sertaus satu) sampai dengan   500(lima   ratus) orang;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">c.</p>
</td>
<td>Kantor Departemen Tenaga Kerja/Kantor Dinas Tenaga Kerja   setempat untuk perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sampai dengan   100(seratus) orang.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(6).</p>
</td>
<td></td>
<td>Persetujuan penangguhan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) yang   ditetapkan oleh Menteri atau Pejabat yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada   ayat (5),berlaku untuk waktu paling lama 1(satu) tahun.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 22</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Persetujuan penangguhan pelaksanaan upah minimum sebagaimana   dimaksud dalam pasal 21 ayat (4) diberikan kepada pengusaha dalam bentuk:</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">a.</p>
</td>
<td>membayar upah terendah,tetap sesuai ketetapan upah minimum yang   lama atau</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">b.</p>
</td>
<td>membayar lebih rendah dari upah minimum yang baru atau</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">c.</p>
</td>
<td>menangguhkan pembayaran upah minimum yang baru secara bertahap</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Besarnya UMSR Tk.I dan atau UMSR Tk.II,selama penangguhan tidak   boleh lebih rendah dari UMR Tk.I atau Tk.II yang berlaku.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Bagi perusahaan yang diberikan penangguhan sebagaimana dimaksud   pada ayat(1) dan (2),pengusaha tidak diwajibkan membayar kekurangan upah   selama jangka waktu pelaksanaan penangguhan upah minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 23</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Permohonan penangguhan upah minimum diajukan oleh pengusaha   paling lama 10 (sepuluh) hari sebelum berlakunya ketetapkan upah minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Penolakan atau persetujuan atas permohonan penangguhan yang   diajukan oleh pengusaha,diberikan dalam jangka waktu paling lama 1(satu)   bulan terhitung sejak diterima secara lengkap permohonan penangguhan upah   minimum.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(3).</p>
</td>
<td></td>
<td>Apabila waktu yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat(2)   telah terlampaui dan belum ada keputusan dari pejabat sebagaimana dimaksud   dalam pasal 21 ayat (4) dan(5),permohonan penangguhan yang telah memenuhi   persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (1) dianggap telah   disetujui.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(4).</p>
</td>
<td></td>
<td>Selama permohonan penangguhan masih dalam proses penyelesaian   perusahaan yang bersangkutan dapat membayar upah yang biasa diterima pekerja.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(5).</p>
</td>
<td></td>
<td>Dalam hal permohonan penanggulangan ditolak,upah yang diberikan   pengusaha kepada pekerja serendah-rendahnya sama dengan upah minimum yang   berlaku terhitunh tanggal berlakunya ketentuan upah minimum yang baru.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">BAB VI</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">ATURAN   PERALIHAN</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 24</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini,rekomendasi   Gubernur yang belum sesuai dengan ketentuan pasal 5 tetap berlaku untuk   penetapan UMSR Tk.I dan atau UMSR Tk.II tahun 1999.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">BAB VII</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">KETENTUAN   SANKSI</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 25</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(1).</p>
</td>
<td></td>
<td>Berdasarkan pasal 17 undang-undang No.14 tahun 1969 pengusaha   yang melanggar ketentuan pasal 7 dan pasal 13 atau tidak memenuhi pasal 14   ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 3(tiga) bulan   atau denda setinggi-tingginya Rp.100.000;(seratus ribu rupiah).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>
<p align="center">(2).</p>
</td>
<td></td>
<td>Selain sanksi pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1),hakim   dapat menjatuhkan putusan membayar upah pekerja.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">BAB VIII</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">P E N U T U P</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 26</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Selain dari pegawai penyidik pada umumnya,pegawai pengawas   perburuhan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No.3 tahun 1951 tentang   Pernyataan berlakunya Undang-undang Pengawasan Perburuhan tahun 1948 No.23   berwenang melakukan pengawasan dan penyidaikan atas pelanggaran terhadap   ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 27</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini,maka Peraturan Menteri   Tenaga Kerja No.Per.03/Men/1997 tentang Upah Minimum Regional,dan   Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan   Pengawasan Ketenagakerjaan No.Kep.16/BW/1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan   Upah minimum Regional bagi Perusahaan Padat Karya tertentu dan Perusahaan   Kecil dinyatakan tidak berlaku lagi.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">Pasal 28</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Peraturan ini mulai berlaku pada   tanggal ditetapkan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Ditetapkan di : J A K A R T A</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>Pada tanggal :12 Januari 1999</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">MENTERI TENAGA KERJA</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">REPUBLIK INDONESIA</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">ttd</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>
<p align="center">FAHMI IDRIS</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/kep-233men2003-jenis-dan-sifat-pekerjaan-yang-dijalankan-secara-terus-menerus" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 233/MEN/2003 &#8211; JENIS DAN SIFAT PEKERJAAN  YANG DIJALANKAN SECARA TERUS MENERUS</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-230men2003-golongan-dan-jabatan-tertentu-yang-dapat-dipungut-biaya-penempatan-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-51men2004-tentang-istirahat-panjang-pada-perusahaan-tertentu" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 51/MEN/2004 &#8211;  Tentang ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-232men2003-akibat-hukum-mogok-kerja-yang-tidak-sah" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 232/MEN/2003 &#8211; AKIBAT HUKUM MOGOK KERJA YANG TIDAK SAH</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-226men2000-perubahan-pasal-1-pasal-3-pasal-4-pasal-8-pasal11-pasal20-dan-pasal-21-peraturan-menteri-tenaga-kerja-nomor-per-01men1999-tentang-upah-minimum" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP-226/MEN/2000 &#8211; PERUBAHAN PASAL 1,  PASAL 3, PASAL 4, PASAL 8, PASAL,11, PASAL20, DAN PASAL 21 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA &#8211; NOMOR PER-01/MEN/1999 TENTANG UPAH MINIMUM</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-231men2003-tata-cara-penangguhan-pelaksanaan-upah-minimum" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=907&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-231men2003-tata-cara-penangguhan-pelaksanaan-upah-minimum' rel='bookmark' title='KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM'>KEP. 231/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-49men2004-ketentuan-struktur-dan-skala-upah' rel='bookmark' title='KEP. 49/MEN/2004 &#8211; KETENTUAN STRUKTUR DAN SKALA UPAH'>KEP. 49/MEN/2004 &#8211; KETENTUAN STRUKTUR DAN SKALA UPAH</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-232men2003-akibat-hukum-mogok-kerja-yang-tidak-sah' rel='bookmark' title='KEP. 232/MEN/2003 &#8211; AKIBAT HUKUM MOGOK KERJA YANG TIDAK SAH'>KEP. 232/MEN/2003 &#8211; AKIBAT HUKUM MOGOK KERJA YANG TIDAK SAH</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/per-01men1999-upah-minimum/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SKB 4 Menteri: PEMELIHARAAN MOMENTUM PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DALAM MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL</title>
		<link>http://indosdm.com/skb-4-menteri-pemeliharaan-momentum-pertumbuhan-ekonomi-nasional-dalam-mengantisipasi-perkembangan-perekonomian-global</link>
		<comments>http://indosdm.com/skb-4-menteri-pemeliharaan-momentum-pertumbuhan-ekonomi-nasional-dalam-mengantisipasi-perkembangan-perekonomian-global#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 10:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[demo buruh]]></category>
		<category><![CDATA[SKB]]></category>
		<category><![CDATA[SKB 4 Menteri]]></category>
		<category><![CDATA[SKB Upah Minimum]]></category>
		<category><![CDATA[UMR]]></category>
		<category><![CDATA[Upah minimum regional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[PERATURAN BERSAMA 4 MENTERI: MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI PERINDUSTRIAN, DAN MENTERI  PERDAGANGAN. NOMOR  : PER.16/MEN/IX/2008, NOMOR  : 49/2008,  NOMOR  : 922.1/M-IND/10/2008, NOMOR  : 39/M-DAG/PER/10/2008 TENTANG PEMELIHARAAN MOMENTUM PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DALAM MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL 
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-223men2003-jabatan-jabatan-di-lembaga-pendidikan-yang-dikecualikan-dari-kewajiban-membayar-kompensasi' rel='bookmark' title='KEP. 223/MEN/2003 &#8211; JABATAN-JABATAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN  YANG DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN MEMBAYAR KOMPENSASI'>KEP. 223/MEN/2003 &#8211; JABATAN-JABATAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN  YANG DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN MEMBAYAR KOMPENSASI</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP....</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-227men2003-tata-cara-penetapan-standard-kompetensi-kerja-nasional-indonesia' rel='bookmark' title='KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA'>KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-230men2003-golongan-dan-jabatan-tertentu-yang-dapat-dipungut-biaya-penempatan-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA'>KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">PERATURAN BERSAMA</p>
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI PERINDUSTRIAN, DAN MENTERI  PERDAGANGAN.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">NOMOR  : PER.16/MEN/IX/2008</p>
<p style="text-align: center;">NOMOR  : 49/2008</p>
<p style="text-align: center;">NOMOR  : 922.1/M-IND/10/2008</p>
<p style="text-align: center;">NOMOR  : 39/M-DAG/PER/10/2008</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">TENTANG</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>PEMELIHARAAN MOMENTUM PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DALAM MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL </strong></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI PERINDUSTRIAN, DAN MENTERI  PERDAGANGAN.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">
<table style="text-align: justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center"><strong>Menimbang </strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center"><strong>: </strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">a.</p>
</td>
<td valign="top">Bahwa krisis keuangan global yang dihadapi bebagai Negara   akhir-akhir ini juga berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia,   sehingga akan berdampak negative terhadap perkembangan dunia usaha dan   ketenagakerjaan ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">b.</p>
</td>
<td valign="top">Bahwa untuk mengantisipasi dampak negative dari krisis   keuangan global, perlu diambil langkah-langkah konkrit untuk memelihara   pertumbuhan perekonomian melalui pengaturan berbagai kebijakan yang menjamin   ketenangan berusaha ketenangan bekerja ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">c.</p>
</td>
<td valign="top">Bahwa untuk tetap terjaganya kelangsungan usaha, maka   kebijakan penetapan upah diarahkan dengan mempertimbangkan kondisi dan   kemampuan perusahaan, dengan tetap memperhatikan kehidupan pekerja/buruh   beserta keluarganya ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">d.</p>
</td>
<td valign="top">Bahwa untuk  hal   tersebut diatas perlu ditetapkan peraturan bersama Menteri Tenaga Kerja dan   Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perindustrian, dan Menteri   Perdagangan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center"><strong>Mengingat</strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center"><strong>: </strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">1.</p>
</td>
<td valign="top">Undang &#8211; Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang   Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39,   Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4279) ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">2.</p>
</td>
<td valign="top">Undang &#8211; Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan   Daerah  (Lembaran Negara Republik   Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia   Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan   Undang-Undang No 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008   Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">3.</p>
</td>
<td valign="top">Undang &#8211; Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian   (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 2, Tambahan Lembaran   Negara Republik Indonesia nomor 3274) ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">4.</p>
</td>
<td valign="top">Undang &#8211; Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar   Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan   Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 3214) ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">5.</p>
</td>
<td valign="top">Undang &#8211; Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,   Kecil dan Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 93,   Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4866).</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN : </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center"><strong>Menetapkan </strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center"><strong>: </strong></p>
</td>
<td colspan="2" valign="top"><strong>PERATURAN BERSAMA MENTERI MENTERI TENAGA KERJA DAN   TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI , MENTERI PERINDUSTRIAN DAN MENTERI   PERDAGANGAN  TENTANG PEMELIHARAAN   MOMENTUM PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DALAM MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN   PEREKONOMIAN GLOBAL. </strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center"><strong>Pasal 1 </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td colspan="3" valign="top">Dalam menghadapi dampak krisis perekonomian global,   Pemerintah melakukan berbagai upaya agar ketenangan berusaha dan bekerja   tidak terganggu.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center"><strong>Pasal 2 </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td colspan="3" valign="top">Upaya   sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah sebagai berikut :</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(a).</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi melakukan .</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="top">Konsolidasi unsur pekerja/buruh dan pengusaha melalui   forum LKS Tripartit Nasional dan Daerah serta Dewan Pengupahan Nasional dan   Daerah agar merumuskan rekomendasi penetapan Upah Minimum yang mendukung   kelangsungan berusaha dan ketenangan bekerja dengan senantiasa memperhatikan   kemampuan dunia usaha khususnya usaha padat karya dan pertumbuhan ekonomi   nasional ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="top">Upaya mendorong komunikasi Bipartit yang efektif antar   unsur pekerja/buruh dan pengusaha di perusahaan ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="top">Upaya meningkatkan efektivitas mediasi penyelesaian   perselisihan hubungan industrial secara cepat dan berkeadilan serta   pencegahan terjadinya pemutusan hubungan kerja ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(b).</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Menteri Dalam Negeri melakukan :</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="top">Upaya agar Gubernur dan Bupati/Walikota dalam menetapkan   segala kebijakan ketenagakerjaan di wilayah mendukung kelangsungan berusaha   dan ketenangan bekerja, termasuk meningkatkan komunikasi yang efektif dalam   Lembaga Kerjasama Tripartit Daerah, dan Dewan Pengupahan Daerah ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="top">Upaya agar Gubernur dalam menetapkan Upah minimum dan   segala kebijakan ketenagakerjaan di wilayahnya mendukung kelangsungan   berusaha dan ketenangan bekerja dengabn senantiasa memperhatikan kemapuan   dunia usaha khususnya usaha padat karya dan pertumbuhann ekonomi nasional ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="top">Upaya agar Gubernur dan Bupati/Walikota mengoptimalkan   peran, fungsi dan pelaksanaan tugas pejabat fungsional ketenagakerjaan dan   lembaga &#8211; lembaga ketenagakerjaan lainnya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td colspan="2" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">(c).</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top">Menteri   Perindustrian melakukan :</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="top">Mendorong efisiensi proses produksi, optimalisasi   kapasitas produksi dan daya saing produk industri ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">-</p>
</td>
<td valign="top">Menyusun kebijakan penggunaan produksi dalam negeri dan   melaksanakan monitoring pelaksanaannya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">(d).</td>
<td colspan="2" valign="top">Menteri Perdagangan melakukan :</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">-</td>
<td valign="top">Upaya peningkatan pencegahan dan penangkalan penyeludupan   barang &#8211; barang dari luar negeri ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center"><strong> </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">-</td>
<td valign="top">Memperkuat pasar dalam negeri dan promosi penggunaan   produk dalam negeri ;</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">-</td>
<td valign="top">Mendorong   ekspor hasil industri padat karya.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center"><strong>Pasal 3 </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td colspan="3" valign="top">Gubernur dalam menetapkan upah minimum mengupayakan agar   tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center"><strong>Pasal 4 </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td colspan="3" valign="top">Tindak lanjut Peraturan Bersama ini dilakukan oleh masing   &#8211; masing Menteri.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center"><strong>Pasal 5</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td colspan="3" valign="top">Peraturan   Bersama ini mulai berlaku sejak ditetapkan.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Ditetapkan   di Jakarta</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">Pada   tanggal  22  Oktober    2008</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center"><strong>MENTERI TENAGA KERJA DAN   TRANSMIGRASI, </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>ttd </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>ERMAN  SUPARNO </strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">
<p align="center"><strong>MENTERI DALAM NEGERI, , </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> ttd </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>H. MARDIYANTO </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" valign="top"></td>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" valign="top">
<p align="center"><strong>MENTERI PERINDUSTRIAN, </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>ttd </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>FAHMI  IDRIS</strong></p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center"><strong>MENTERI PERDAGANGAN </strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>ttd </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>MARI ELKA PANGESTU </strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<hr style="width: 400px;" />
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>AKHIRNYA SKB ITU DIREVISI</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demo yang digelar kalangan buruh diberbagai daerah agar pemerintah lebih bijaksana dalam menetapkan setiap kebijakan yang dikeluarkan (dalam hal ini SKB 4 menteri) ternyata sampai ke telinga presiden juga. Usai<strong> </strong>sidang kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (27/11) pemerintah melalui Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Soeparno akhirnya merevisi SKB 4 menteri yang menimbulkan gejolak di kalangan buruh dari Medan di ujung barat sana sampai Sidoarjo di ujung timur pulau Jawa sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Revisi yang dilakukan kali ini hanya untuk pasal 3 dan inilah revisi SKB 4 menteri itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasal 3 pada SKB 4 menteri yang sebelumnya berbunyi,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>&#8220;Gubernur dalam menetapkan upah minimum diupayakan tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya diganti menjadi,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>&#8220;Gubernur dalam menetapkan upah minimum diupayakan memperhatikan tingkat inflasi di masing-masing Daerah.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ketentuan itu berlaku semenjak diumumkan pemerintah 27 November 2008.</p>
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/kep-230men2003-golongan-dan-jabatan-tertentu-yang-dapat-dipungut-biaya-penempatan-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-227men2003-tata-cara-penetapan-standard-kompetensi-kerja-nasional-indonesia" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/keputusan-bersama-tiga-menteri-tentang-hari-hari-libur-nasional-dan-cuti-bersama-tahun-2009" rel="bookmark" class="wherego_title">KEPUTUSAN BERSAMA TIGA MENTERI: TENTANG HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2009</a></li><li><a href="http://indosdm.com/perkembangan-dan-evolusi-teori-balanced-scorecard" rel="bookmark" class="wherego_title">Perkembangan dan Evolusi Teori Balanced Scorecard</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-67meniv2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP-67/MEN/IV/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA ASING</a></li><li><a href="http://indosdm.com/per-02menxii2004-pelaksanaan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja-bagi-tenaga-kerja-asing" rel="bookmark" class="wherego_title">PER. 02/MEN/XII/2004 &#8211; PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA  BAGI TENAGA KERJA ASING</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=871&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-223men2003-jabatan-jabatan-di-lembaga-pendidikan-yang-dikecualikan-dari-kewajiban-membayar-kompensasi' rel='bookmark' title='KEP. 223/MEN/2003 &#8211; JABATAN-JABATAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN  YANG DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN MEMBAYAR KOMPENSASI'>KEP. 223/MEN/2003 &#8211; JABATAN-JABATAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN  YANG DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN MEMBAYAR KOMPENSASI</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP....</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-227men2003-tata-cara-penetapan-standard-kompetensi-kerja-nasional-indonesia' rel='bookmark' title='KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA'>KEP. 227/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PENETAPAN  STANDARD KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/kep-230men2003-golongan-dan-jabatan-tertentu-yang-dapat-dipungut-biaya-penempatan-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA'>KEP. 230/MEN/2003 &#8211; GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU  YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA</a> <small>KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR :...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/skb-4-menteri-pemeliharaan-momentum-pertumbuhan-ekonomi-nasional-dalam-mengantisipasi-perkembangan-perekonomian-global/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR : 64 TAHUN 2005 &#8211; PERUBAHAN KEEMPAT  ATAS  PP NO. 14 TH 1993  TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</title>
		<link>http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja</link>
		<comments>http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 09:26:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chief Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Benefits - Compensation Law]]></category>
		<category><![CDATA[PERATURAN PEMERINTAH]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan PP]]></category>
		<category><![CDATA[PP]]></category>
		<category><![CDATA[PROGRAM JAMINAN SOSIAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indosdm.com/?p=749</guid>
		<description><![CDATA[PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 64 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA 
Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-no14-th-1993-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-pengganti-undang-undang' rel='bookmark' title='PERPEPU NOMOR 1 TAHUN 2005  &#8211; PENANGGUHAN MULAI BERLAKUNYA  UU NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG  PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL'>PERPEPU NOMOR 1 TAHUN 2005  &#8211; PENANGGUHAN MULAI BERLAKUNYA  UU NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG  PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2005...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: center;">NOMOR : 64 TAHUN 2005</p>
<p style="text-align: center;">TENTANG</p>
<p style="text-align: center;"><strong>PERUBAHAN KEEMPAT<br />
ATAS<br />
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993<br />
TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM<br />
JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</strong></p>
<p style="text-align: center;">DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA</p>
<p style="text-align: center;">PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>Menimbang: </strong></p>
<div>
<ol>
<li style="text-align: justify;">bahwa besarnya santunan kematian dan biaya pemakaman bagi  pekerja/buruh yang meninggal dunia sudah tidak sesuai lagi dengan  kebutuhan keluarga pekerja/buruh yang ditinggalkan;</li>
<li style="text-align: justify;">bahwa besarnya biaya pengobatan dan perawatan untuk satu  peristiwa kecelakaan bagi pekerja/buruh yang mengalami kecelakan kerja  sudah tidak sesuai lagi;</li>
<li style="text-align: justify;">bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a dan huruf b  perlu mengubah ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 1993  tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagaimana  telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor  28 Tahun 2002 dengan Peraturan Pemerintah;</li>
</ol>
</div>
<p align="justify"><strong>Mengingat: </strong></p>
<div>
<ol>
<li>Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Republik Tahun 1945;</li>
<li>Undang-Undang  Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 3468);</li>
<li style="text-align: justify;">Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang  Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 20, Tambahan lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 3520) sebagaimana telah beberapa kali diubah  terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2002 ( Lembaran  Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 4023);</li>
</ol>
</div>
<p align="center">MEMUTUSKAN</p>
<p align="justify"><strong>Menetapkan: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS  PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN  PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</p>
<p style="text-align: justify;">Pasal 1</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah nomor  14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga  Kerja sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan  Pemerintah Nomor 82 Tahun 2002, diubah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;">1. Ketentuan Pasal 22 ayat (1) diubah dan menambah 1 (satu) huruf yakni huruf c, sehingga Pasal 22 berbunyi sebagai berikut :</p>
<p align="justify">Pasal 22</p>
<p align="justify">
<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" align="left" valign="top">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="4%" align="left" valign="top"></td>
<td width="4%" align="left" valign="top">(1)</td>
<td colspan="2" align="left" valign="top">Jaminan kematian dibayar sekaligus kepada janda atau duda atau anak, yang meliputi :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td width="6%" align="left" valign="top">a.</td>
<td width="86%" align="left" valign="top">santunan kematian diberikan sebesar Rp. 6.000.000,- (enam juta rupiah)</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td align="left" valign="top">b.</td>
<td align="left" valign="top">santunan berkala sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) diberikan selama 24 (dua puluh empat) bulan;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td align="left" valign="top">c.</td>
<td align="left" valign="top">biaya pemakaman sebesar Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah)</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>(2)</td>
<td align="left" valign="top"></td>
<td align="left" valign="top">Dalam  hal janda atau duda atau anak tidak ada, maka jaminan kematian dibayar  sekaligus kepada keturunan sedarah yang ada dari tenaga kerja, menurut  garis lurus ke bawah dan garis lurus ke atas dihitung sampai derajat  kedua</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>(3)</td>
<td align="left" valign="top"></td>
<td align="left" valign="top">Dalam  hal tenaga kerja tidak mempunyai keturunan sedarah sebagaimana dimaksud  dalam ayat (2), maka jaminan kematian dibayarkan sekaligus kepada pihak  yang ditunjuk oleh tenaga kerja dalam wasiatnya.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>(4)</td>
<td align="left" valign="top"></td>
<td align="left" valign="top">Dalam hal tidak ada wasiat, biaya pemakaman dibayarkan kepada pengusaha atau pihak lain guna pengurusan pemakaman.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>(5)</td>
<td align="left" valign="top"></td>
<td align="left" valign="top">Dalam  hal magang atau murid, dan mereka yang memborong pekerjaan, serta  narapidana meninggal dunia bukan karena akibat kecelakaan kerja, maka  keluarga yang ditinggalkan tidak berhak atas jaminan kematian.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p align="justify">2. Ketentuan pada Lampiran II Romawi I huruf A angka  2 butir b. b2, angka 3 butir b dan c dan huruf B serta Romawi II  diubah, sehingga Lampiran II berbunyi sebagai berikut :</p>
<p align="center">LAMPIRAN II</p>
<div>
<table style="text-align: justify; height: 584px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="751">
<tbody>
<tr>
<td width="5%">I.</td>
<td colspan="5">BESARNYA JAMINAN KECELAKAAN KERJA</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td width="4%">A.</td>
<td colspan="4">Santunan</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td width="4%">1.</td>
<td style="text-align: justify;" colspan="3">Santunan  Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) 4 bulan pertama 100% upah sebulan,  4 bulan kedua 75% x upah sebulan dan bulan seterusnya 50% x upah  sebulan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>2.</td>
<td colspan="3">Santunan cacat :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td width="4%">a.</td>
<td colspan="2">santunan  cacat sebagian untuk selama-lamanya dibayarkan secara sekaligus  (lumpsum) dengan besarnya % sesuai tabel x 70 bulan upah;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>b.</td>
<td colspan="2">santunan  cacat total untuk selama-lamanya dibayarkan secara sekaligus (lumpsum)  dan secara berkala dengan besarnya santunan adalah :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td width="5%">b.1.</td>
<td width="78%">santunan sekaligus sebesar 70% x 70 bulan upah;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>b.2.</td>
<td>santunan berkala sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) selama 24 (dua puluh empat) bulan;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>c.</td>
<td colspan="2">
<p align="justify">santunan cacat kekurangan fungsi dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dengan besarnya santunan adalah :</p>
<p>% berkurangnya fungsi x % sesuai tabel x 70 bulan upah.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>3.</td>
<td colspan="3">Santunan kematian dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dan secara berkala dengan besarnya santunan adalah :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>a.</td>
<td colspan="2">santunan sekaligus sebesar 60% x 70 bulan upah, sekurang-kurangnya sebesar santunan kematian;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>b.</td>
<td colspan="2">santunan berkala sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) selama 24 (dua puluh empat) bulan;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>c.</td>
<td colspan="2">biaya pemakaman sebesar Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah)</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>B.</td>
<td colspan="4">Pengobatan dan perawatan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>1.</td>
<td colspan="3">dokter;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>2.</td>
<td colspan="3">obat;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>3.</td>
<td colspan="3">operasi;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>4.</td>
<td colspan="3">rontgen, laboratorium;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>5.</td>
<td colspan="3">perawatan Puskesmas, Rumah Sakit Umum Kelas I;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>6.</td>
<td colspan="3">gigi;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>7.</td>
<td colspan="3">mata;</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>8.</td>
<td colspan="3">
<p align="justify">jasa tabib/sinshe/tradisional yang telah mendapatkan ijin resmi dari instansi yang berwenang.</p>
<p align="justify">Seluruh  biaya yang dikeluarkan untuk satu peristiwa kecelakaan tersebut pada BI  sampai dengan B8 dibayarkan maksimum Rp. 8.000.000,- (delapan juta  rupiah)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>C.</td>
<td colspan="4">Biaya  rehabilitasi harga berupa penggantian pembelian alat bantu (orthose)  dan atau alat pengganti (prothese) diberikan satu kali untuk setiap  kasus dengan patokan harga yang ditetapkan oleh Pusat Rehabilitasi  Profesor Dokter Suharso Surakarta dan ditambah 40% (empat puluh persen)  dari harga tersebut.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>D.</td>
<td colspan="4">Penyakit yang timbul karena hubungan kerja.</p>
<p>Besarnya santunan dan biaya pengobatan/perawatan sama dengan A dan B.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>E.</td>
<td colspan="4">Ongkos  pengangkutan tenaga kerja dari tempat kejadian kecelakaan kerja ke  rumah sakit diberikan penggantian biaya sebagai berikut :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>1.</td>
<td colspan="3">Bilamana hanya menggunakan jasa angkutan darat/sungai maksimum sebesar Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah);</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>2.</td>
<td colspan="3">Bilamana hanya menggunakan jasa angkutan laut maksimal sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah);</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>3.</td>
<td colspan="3">Bilamana hanya menggunakan jasa angkutan udara maksimal sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah);</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p align="justify">
<p align="justify">II.. TABEL PERSENTASE SANTUNAN TUNJANGAN CACAT TETAP SEBAGIAN DAN CACAT-CACAT LAINNYA</p>
<div>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>MACAM CACAT TETAP SEBAGIAN</td>
<td>% x UPAH</td>
</tr>
<tr>
<td>Lengan kanan dari sendi bahu ke bawah</td>
<td>40</td>
</tr>
<tr>
<td>Lengan kiri dari sendi bahu ke bawah</td>
<td>35</td>
</tr>
<tr>
<td>Lengan kanan dari atau dari atas siku ke bawah</td>
<td>35</td>
</tr>
<tr>
<td>Lengan kiri dari atau dari atas siku ke bawah</td>
<td>30</td>
</tr>
<tr>
<td>Tangan kanan dari atau dari atas pergelangan ke bawah</td>
<td>32</td>
</tr>
<tr>
<td>Tangan kiri dari atau dari atas pergelangan ke bawah</td>
<td>28</td>
</tr>
<tr>
<td>Kedua belah kaki dari pangkal paha ke bawah</td>
<td>70</td>
</tr>
<tr>
<td>Sebelah kaki dari pangkal paha ke bawah</td>
<td>35</td>
</tr>
<tr>
<td>Kedua belah kaki dari mata kaki ke bawah</td>
<td>50</td>
</tr>
<tr>
<td>Sebelah kaki dari mata kaki ke bawah</td>
<td>25</td>
</tr>
<tr>
<td>Kedua belah mata</td>
<td>70</td>
</tr>
<tr>
<td>Sebelah mata atau diplopia pada penglihatan dekat</td>
<td>35</td>
</tr>
<tr>
<td>Pendengaran pada kedua belah telinga</td>
<td>40</td>
</tr>
<tr>
<td>Pendengaran pada sebelah telinga</td>
<td>20</td>
</tr>
<tr>
<td>Ibu jari tangan kanan</td>
<td>15</td>
</tr>
<tr>
<td>Ibu jari tangan kiri</td>
<td>12</td>
</tr>
<tr>
<td>Telunjuk tangan kanan</td>
<td>9</td>
</tr>
<tr>
<td>Telunjuk tangan kiri</td>
<td>7</td>
</tr>
<tr>
<td>Salah satu jari lain tangan kanan</td>
<td>4</td>
</tr>
<tr>
<td>Salah satu jari lain tangan kiri</td>
<td>3</td>
</tr>
<tr>
<td>Ruas pertama telunjuk kanan</td>
<td>4,5</td>
</tr>
<tr>
<td>Ruas pertama telunjuk kiri</td>
<td>3,5</td>
</tr>
<tr>
<td>Ruas pertama jari lain tangan kanan</td>
<td>2</td>
</tr>
<tr>
<td>Ruas pertama jari lain tangan kiri</td>
<td>1,5</td>
</tr>
<tr>
<td>Salah satu ibu jari kaki</td>
<td>5</td>
</tr>
<tr>
<td>Salah satu jari telunjuk kaki</td>
<td>3</td>
</tr>
<tr>
<td>Salah satu jari kaki lain</td>
<td>2</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p align="justify">
<p align="justify">
<div>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>CACAT-CACAT LAINNYA</td>
<td>% x UPAH</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td>Terkelupasnya kulit kepala</td>
<td>10 &#8211; 30</td>
</tr>
<tr>
<td>Impotensi</td>
<td>30</td>
</tr>
<tr>
<td>Kaki memendek sebelah</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td>
<ul>
<li>kurang dari 5 cm</li>
</ul>
</td>
<td>10</td>
</tr>
<tr>
<td>
<ul>
<li>5 &#8211; 7,5 cm</li>
</ul>
</td>
<td>20</td>
</tr>
<tr>
<td>
<ul>
<li>7,5 cm atau lebih</li>
</ul>
</td>
<td>30</td>
</tr>
<tr>
<td>Penurunan daya dengar kedua belah telinga setiap 10 desibel</td>
<td>6</td>
</tr>
<tr>
<td>Penurunan daya dengar sebelah telinga setiap 10 desibel</td>
<td>3</td>
</tr>
<tr>
<td>Kehilangan daun telinga sebelah</td>
<td>5</td>
</tr>
<tr>
<td>Kehilangan kedua belah daun telinga</td>
<td>10</td>
</tr>
<tr>
<td>Cacat hilangnya cuping hidung</td>
<td>30</td>
</tr>
<tr>
<td>Perforasi sekat rongga hidung</td>
<td>15</td>
</tr>
<tr>
<td>Kehilangan daya penciuman</td>
<td>10</td>
</tr>
<tr>
<td>Hilangnya kemampuan kerja fisik</td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td>
<ul>
<li>51% &#8211; 70%</li>
</ul>
</td>
<td>40</td>
</tr>
<tr>
<td>
<ul>
<li>25% &#8211; 50%</li>
</ul>
</td>
<td>20</td>
</tr>
<tr>
<td>
<ul>
<li>10% &#8211; 25%</li>
</ul>
</td>
<td>5</td>
</tr>
<tr>
<td>Hilangnya kemampuan kerja mental tetap</td>
<td>70</td>
</tr>
<tr>
<td>Kehilangan  sebagian fungsi penglihatan 10%, Apabila efisiensi penglihatan kanan  dan kiri berbeda, maka efisiensi penglihatan binokuler dengan rumus  kehilangan efisiensi penglihatan : (3 x % ef.peng.terbaik)+%  ef.peng.terburuk</td>
<td>7</td>
</tr>
<tr>
<td>Setiap kehilangan efisiensi tajam penglihatan 10%</td>
<td>7</td>
</tr>
<tr>
<td>Kehilangan penglihatan warna</td>
<td>10</td>
</tr>
<tr>
<td>Setiap kehilangan pandang 10%</td>
<td>7</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p align="justify">
<p style="text-align: justify;">Pasal II</p>
<p>Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.</p>
<p>Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan  Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaga Negara Republik Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">Ditetapkan di Jakarta pada tanggal : 22 Desember 2005<br />
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA<br />
ttd<br />
Dr. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Diundangkan di Jakarta pada tanggal : 22 Desember 2005<br />
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA<br />
AD INTERIM<br />
ttd<br />
YUSRIL IHZA MAHENDRA</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: center;">PENJELASAN</p>
<p style="text-align: center;">ATAS</p>
<p style="text-align: center;">PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA</p>
<p style="text-align: center;">NOMOR 64 TAHUN 2005</p>
<p style="text-align: center;">TENTANG</p>
<p style="text-align: center;"><strong>PERUBAHAN KEEMPAT</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>ATAS</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA </strong></p>
<p align="justify">I. UMUM</p>
<p>Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja merupakan program perlindungan dasar  bagi tenaga kerja dan keluarganya, oleh karena itu perlu selalu diupayakan  peningkatan jaminan sesuai perkembangan keadaan.</p>
<p align="justify">Tenaga kerja yang meninggal dunia atau mengalami cacat total atau cacat  sebagian mengakibatkan hilangnya atau berkurangnya penghasilan yang sangat  berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi bagi tenaga kerja dan keluarganya.  Sehubungan dengan hal itu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan  Sosial Tenaga Kerja memberikan kepastian perlindungan melalui jaminan kematian  dan cacat total atau cacat sebagian sebagai upaya meringankan beban tenaga  kerja dan atau keluarga dalam bentuk santunan kematian, biaya pemakaman,  santunan kematian karena kecelakaan kerja, santunan cacat total dan cacat  sebagian karena kecelakaan kerja.</p>
<p align="justify">Berdasarkan pertimbangan di atas dan ketersediaannya dana Badan  Penyelenggara, maka besarnya jumlah santunan kematian, biaya pemakaman,  santunan kematian karena kecelakaan kerja, santunan cacat total dan cacat  sebagian karena hilangnya kemampuan kerja fisik yang telah diatur berdasarkan  Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program  Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir  dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2002 perlu diubah.</p>
<p align="justify">Sehubungan dengan hal tersebut, perlu untuk mengubah ketentuan Pasal 22 ayat  (1) dan Lampiran II Romawi I huruf A angka 2 butir b.b2, angka 3 butir b dan c  dan huruf B serta Romawi II Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang  Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagaimana telah beberapa  kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2002, dengan  Peraturan Pemerintah ini.</p>
<p align="justify">PASAL DEMI PASAL</p>
<p align="justify">Pasal I</p>
<p>Cukup jelas</p>
<p align="justify">Pasal II</p>
<p>Cukup jelas</p>
<p align="justify">TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4528</p>
<p align="justify">
<p align="justify">
<div id="wherego_related"><h3>Readers who viewed this page, also viewed:</h3><ul><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-no14-th-1993-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-226men2003-tata-cara-perizinan-penyelenggaraan-program-pemagangan-di-luar-wilayah-indonesia" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 226/MEN/2003 &#8211; TATA CARA PERIZINAN PENYELENGGARAAN PROGRAM PEMAGANGAN DI LUAR WILAYAH INDONESIA</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-ketenagakerjaan-non-peraturan-pelaksana-uu-no-13-2003" rel="bookmark" class="wherego_title">Peraturan Ketenagakerjaan Non Peraturan Pelaksana UU No. 13 / 2003</a></li><li><a href="http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-peraturan-pelaksanaan-uu-no132003" rel="bookmark" class="wherego_title">PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PELAKSANAAN UU NO.13/2003</a></li><li><a href="http://indosdm.com/kep-51men2004-tentang-istirahat-panjang-pada-perusahaan-tertentu" rel="bookmark" class="wherego_title">KEP. 51/MEN/2004 &#8211;  Tentang ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU</a></li><li><a href="http://indosdm.com/per-12menvi2007-petunjuk-teknis-pendaftaran-kepesertaan-pembayaran-iuran-pembayaran-santunan-dan-pelayanan-jaminan-sosial-tenaga-kerja" rel="bookmark" class="wherego_title">PER &#8211; 12/MEN/VI/2007 &#8211; PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN,  PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN  JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/where-did-they-go-from-here/">Where did they go from here?</a></li></ul></div><img src="http://indosdm.com/?ak_action=api_record_view&id=749&type=feed" alt="" /><p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-79-tahun-1998-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 1998 &#8211; TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-no14-th-1993-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja' rel='bookmark' title='Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA'>Peraturan Pemerintah No.14 th. 1993 &#8211; PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN...</small></li>
<li><a href='http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-pengganti-undang-undang' rel='bookmark' title='PERPEPU NOMOR 1 TAHUN 2005  &#8211; PENANGGUHAN MULAI BERLAKUNYA  UU NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG  PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL'>PERPEPU NOMOR 1 TAHUN 2005  &#8211; PENANGGUHAN MULAI BERLAKUNYA  UU NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG  PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL</a> <small>PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2005...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://yarpp.org'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indosdm.com/peraturan-pemerintah-nomor-64-tahun-2005-perubahan-keempat-atas-pp-no-14-th-1993-tentang-penyelenggaraan-program-jaminan-sosial-tenaga-kerja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

